Sri Mulyani: Potensi Resesi Global Masih Ada

Menurut Sri Mulyani, kondisi perekonomian global, terutama negara maju masih mengalami tantangan yang sangat berat. Pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan lebih lambat dari 2022.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Sri Mulyani: Potensi Resesi Global Masih Ada
krisis ekonomi. shutterstock

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati terus memasang mata terhadap situasi perekonomian dunia yang masih belum menentu. Sri Mulyani mewaspadai potensi terjadinya resesi global, yang tentu akan turut berimbas terhadap ekonomi Indonesia.

Menurut dia, kondisi perekonomian global, terutama negara maju masih mengalami tantangan yang sangat berat. Pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan lebih lambat dari 2022, apalagi 2021 yang jadi momentum pemulihan ekonomi pasca pandemi.

"Sehingga tren melemahnya ekonomi di negara maju ini masih berlanjut. Dan, kemungkinan terjadi resesi (global) juga masih ada. Oleh karena itu, peranan dari pertumbuhan ekonomi global melambat," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (22/2).

"Terutama disumbangkan perekonomian Amerika, Eropa, meskipun China akan maju tapi masih di bawah target yang diharapkan Pemerintah China itu sendiri. Ini tentu akan menjadi pengaruh yang akan sangat menentukan perekonomian Indonesia juga," ujarnya.

Sri Mulyani lantas melihat beberapa indikator, seperti global commodity index naik 15 persen secara tahunan (year on year). "Ini merupakan titik tertinggi, naik 33 persen pada bulan Mei 2022," imbuhnya.

Namun, tingkat inflasi di berbagai negara jadi yang tertinggi dalam jangka waktu 40 tahun terakhir. Begitu juga kurs dolar Amerika Serikat (AS) yang kiat menguat meski Negeri Paman Sam tengah berjibaku dengan lonjakan inflasi.

"Sehingga dari sisi kebijakan moneter di Amerika Serikat yang diperkirakan masih akan bertahan dengan suku bunga tinggi cukup lama, menyebabkan dolar Amerika mengalami penguatan," sebut Sri Mulyani.

Catatan lainnya, stok saham untuk negara-negara berkembang mengalami penurunan 20 persen, disebabkan oleh interest rate tinggi yang membuat harga saham mengalami tekanan.

Di sisi lain, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktir global pun mengalami pelemahan, jadi yang terendah dalam 2,5 tahun.

"Ini yang menggambarkan bahwa suasana dunia masih memang dalam kondisi tertekan ekonominya. Terutama dimotori oleh negara-negara Eropa yang terkena imbas langsung dari perang di Ukraina. Amerika Serikat yang tentu juga terlibat di dalam perang di Ukraina, namun pada saat yang sama inflasi di dalam negerinya tinggi," urainya.

"Sementara di China dengan negara perekonomian terbesar kedua (dunia) mengalami pemulihan sesudah adanya pembukaan dari kebijakan lockdown-nya," kata Sri Mulyani.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi