Berulang kali Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperingatkan adanya ancaman resesi di tahun depan. Semua diminta siaga dan meminimalisir dampak yang mungkin tidak bisa dihindari.
Ancaman resesi ini pun telah membuat para investor menahan diri menebar modal. Tekanan inflasi yang tinggi di hampir semua negara membuat mereka berpikir ulang untuk berinvestasi.
"Inflasi yang tinggi ini juga jadi ancaman krisis," ungkap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto di Hotel Holiday Inn Pasteur, Bandung, (5/10).
Tingginya tingkat inflasi ini membuat para investor menahan diri untuk berinvetasi ke industri hulu migas. Walaupun beberapa waktu lalu sektor ini mengalami kenaikan harga di tingkat global.
"Harga minyak yang tinggi tidak serta merta, pemain ini mau investasi karena mereka melihat ini sementara dan inflasinya tinggi," kata dia.
Dalam kondisi sekarang, dia mengatakan perusahaan sedang menyiapkan uang untuk melunasi utang. Sebab, kenaikan inflasi mendorong suku bunga acuan naik dan bisa berdampak pada jumlah utang yang perlu dibayar.
"Kalau inflasi ini, bunga bisa tinggi dan ini berarti mereka ingin selesaikan dulu," katanya.
Menurutnya, inilah yang membuat investasi di sektor hulu migas sekarang melempem, yakni tingginya harga minyak hanya sementara. Padahal, indikasi investasi di Indonesia untuk sektor hulu migas sangat menarik.
Transisi ke energi bersih membutuhkan gas bumi yang juga bersih sambil mempersiapkan terbangunnya sumber energi baru terbarukan. Sayangnya kondisi ketidakpastian yang tinggi membuat mereka jadi berpikir ulang dan menahan diri.