Literasi Keuangan Rendah, OJK Catat Cuma 6 Persen Penduduk RI Miliki Rencana Pensiun

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara menyatakan, tingkat literasi keuangan masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini tercermin dari minimnya jumlah keikursertaan penduduk usia dewasa Indonesia dalam program pensiun.

Sulaeman
Oleh Sulaeman - Reporter
Literasi Keuangan Rendah, OJK Catat Cuma 6 Persen Penduduk RI Miliki Rencana Pensiun
Ilustrasi pensiunan. ©2012 Shutterstock/Jack.Q

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara menyatakan, tingkat literasi keuangan masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini tercermin dari minimnya jumlah keikursertaan penduduk usia dewasa Indonesia dalam program pensiun.

"Yakni hanya sebesar 6 persen untuk masyarakat dewasa kita yang mengikuti program pensiun," ungkapnya dalam acara Pelatihan dan Gathering Wartawan Media Massa di Bandung, Sabtu (4/12).

Tirta menyampaikan, program pensiun sendiri padahal sangat penting untuk diikuti kelompok usia dewasa. Hal ini bertujuan agar tidak membebani ahli waris di kemudian hari.

"Maka, kita semua perlu menyiapkan hari tua, agar tidak membebani atau merepotkan ahli waris nantinya," tekannya.

Upaya Tingkatan Literasi Keuangan

Oleh karena itu, OJK bersama stakeholders terkait lainnya terus berupaya menginisiasi sejumlah program untuk mendongkrak tingkat literasi keuangan masyarakat. Antara lain dengan menyelenggarakan program FinExpo Bulan Inklusi Keuangan (BIK) pada tanggal 1-31 Oktober 2021 lalu.

Melalui program tersebut OJK menargetkan tingkat inklusi masyarakat bisa mencapai 90 persen pada 2024 mendatang. Hal ini sebagaimana ditargetkan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Lewat program Bulan Inklusi Keuangan tersebut OJK ingin juga mendorong tingkat inklusi maupun literasi keuangan yang lebih tinggi," tutupnya.

Rekomendasi