Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi, Presiden baru Amerika Serikat Joe Biden akan menambah stimulus fiskal untuk mengangkat negara tersebut dari keterpurukan ekonomi. Stimulus fiskal tersebut diharapkan membawa dampak positif bagi perekonomian global.
"Kita sedang menunggu tambahan stimulus fiskal yang dilakukan oleh pemerintah Joe Biden. Kami melihat juga akan ada tambahan stimulus fiskal di Amerika Serikat dan ini sudah besar," ujar Perry dalam diskusi daring, Jakarta, Jumat (22/1).
Perry mengatakan, Amerika Serikat masih akan mengadopsi suku bunga rendah dan pelonggaran likuiditas. Hal ini juga diikuti oleh beberapa negara lain seperti Jepang yang memberi sinyal akan melakukan pelonggaran likuiditas hingga 2023.
"The Fed juga akan mengadopsi suku bunga rendah dan likuiditas longgar dan saya bertemu dengan Jeremi Powel dan pertemuan global saya tidak melihat adanya taper tantrum. Itu masih akan lama. Suku bunga longgar dan likuiditas longgar akan tetap dilakukan oleh banyak negara. Bahkan di Jepang, akan melakukan likuidasi longgar sampai 2023," paparnya.
Perry menambahkan, dalam pidato inagurasi yang dilakukan oleh Jeo Biden, negara Paman Sam tidak akan menjadikan perdagangan sebagai politik daya saing. Negara tersebut akan terus melakukan vaksinasi, menambah stimulus fiskal serta menerapkan politik perdagangan yang lebih positif.
"Pidato inagurasi dari Joe Biden mengatakan, bahwa vaksinasi, stimulus fiskal dan politik perdagangan yang lebih positif bukan perang itu membawa kondisi global di pasar keuangan itu semakin baik," paparnya.