Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, mengatakan bahwa produk nikel Indonesia lebih unggul dibandingkan milik Uni Eropa. Oleh karena itu, Uni Eropa menggugat Indonesia ke World Trade Organization (WTO). Lantaran Uni Eropa merasa tersaingi produktivitas nikelnya oleh Indonesia.
"Kita bisa melihat bahwa memang pasti akan lebih superior barang-barang Indonesia itu, karena teknologinya tinggi, pabriknya baru, dan juga ini adalah bagian dari komitmen Pemerintah untuk penciptaan nilai tambah dan menciptakan investasi di Indonesia," kata Mendag Lutfi dalam Konferensi pers perkembangan Kasus Sengketa Nikel Indonesia – Uni Eropa (DS 592) di WTO, Jumat (15/1).
Mendag menyebut hasil produk nikel Indonesia seperti besi dan baja terutama stainless steel produktivitasnya lebih baik. Sebab, Indonesia telah bertransformasi dari sebelumnya pengekspor barang mentah dan setengah jadi, kini pengekspor barang industri.
"Besi baja adalah ekspor nomor 3 terbesar di Indonesia setelah kelapa sawit dan batubara. Jadi bisa dilihat transformasi Indonesia," katanya.
Advertisement
Pemerintah Tak Gentar Jika Negara Lain Ikut Menggugat
Walaupun Indonesia digugat oleh Uni Eropa terkait nikel, Mendag Lutfi mengatakan pihaknya akan menghadapi gugatan tersebut dan bersedia memberikan masukan-masukan kepada Uni Eropa agar bisa menciptakan produk nikel yang produktivitasnya tinggi seperti Indonesia.
"Sebagai bagian kolaborasi, kami tidak merasa keberatan untuk memberikan masukan kepada Eropa untuk bisa menciptakan teknologi tinggi seperti stainless steel, dan bagaimana menciptakan nilai tambah dari industri tersebut," ujarnya.
Adanya gugatan Uni Eropa kepada Indonesia terkait nikel membuat pemerintah bersiap-siap untuk menghadapi sengketa serupa dengan negara lain.
"Saya bilang urusan sengketa ini urusan yang biasa, dan kemungkinan akan terjadi lagi dan Indonesia semakin canggih, baik, dan semakin bisa meladeni negara-negara lain yang mungkin ketinggalan produktivitasnya," pungkasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6