Mendag Lutfi Diharapkan Mampu Atasi Masalah Ketersediaan Bahan Baku Ekspor

Direktur Eksekutif Asosiasi Sepatu dan Alas Kaki Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri, menyambut baik dilantiknya Muhammad Lutfi sebagai menteri perdagangan. Firman juga mengingatkan masih banyak agenda perdagangan yang harus segera dituntaskan.

Dwi Aditya Putra
Oleh Dwi Aditya Putra - Reporter
Mendag Lutfi Diharapkan Mampu Atasi Masalah Ketersediaan Bahan Baku Ekspor
Pengrajin sepatu di Jakarta. ©2020 Liputan6.com/Angga Yuniar

Direktur Eksekutif Asosiasi Sepatu dan Alas Kaki Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri, menyambut baik dilantiknya Muhammad Lutfi sebagai menteri perdagangan. Firman juga mengingatkan masih banyak agenda perdagangan yang harus segera dituntaskan.

Menurutnya, kelancaran bahan baku untuk produk ekspor adalah salah satunya. Dia berharap bahwa masalah itu bisa segera diselesaikan agar ekspor Indonesia semakin meningkat di tahun mendatang.

"Jadi banyak produk Indonesia yang berorientasi ekspor membutuhkan jaminan ketersediaan bahan baku baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Nah inilah yang menjadi agenda penting agar produk Indonesia bisa terus memenuhi pasar ekspor yang makin berkembang," kata dia dalam pernyataannya, Rabu (23/11).

Ketersediaan bahan baku, menurut Firman, sangat penting untuk daya saing produk Indonesia ke internasional. Hal ini berkaitan dengan kontrak yang sudah disepakati. Ketidakmampuan memenuhi kontrak akan menghilangkan kepercayaan negara tujuan terhadap produsen Indonesia. Akibatnya, kontrak itu bisa dialihkan ke negara kompetitor Indonesia.

"Khususnya untuk produk sepatu dan alas kaki Indonesia bersaing dengan Vietnam dan China. Indonesia punya keunggulan dari segi kualitas tetapi tanpa ketersediaan bahan baku kemungkinan larinya kontrak dan investor ke luar negeri sangat besar. Kami berharap kementerian Perdagangan dan kementerian terkait memberikan perhatian yang lebih terhadap hal itu," ujarnya

Menurut Firman, agenda yang juga urgent untuk diselesaikan adalah perjanjian perdagangan dan implementasinya. Dia menyebut bahwa beberapa negara ASEAN sangat aktif menjalin perjanjian dengan mitra strategis mereka. Salah satunya Vietnam baru menyelesaikan free Trade agreement dengan Inggris.

Firman sendiri melihat bahwa selama ini Jerry sambuaga sebagai wamendag telah bergerak cepat dalam menyelesaikan perdagangan. Namun dia berharap Indonesia bisa segera memperbanyak mitra bilateral dalam perjanjian perdagangan agar pasar ekspor Indonesia semakin luas.

Sementara itu, mengenai implementasi perjanjian perdagangan firman mengatakan bahwa Kementerian Perdagangan beserta kementerian lain sudah di berada di jalur yang tepat. Sebagai indikator adalah meningkatnya pemanfaatan surat keterangan asal dan fasilitasi perdagangan yang lain. Dia pun berharap kolaborasi antar stakeholder itu bisa diperkuat lagi supaya hambatan-hambatan yang muncul dalam implementasi perjanjian perdagangan bisa lebih cepat diselesaikan.

"Kami dari asosiasi dan pelaku usaha optimis dengan duet ini. Semoga keduanya bisa bersinergi membuat Kementerian Perdagangan semakin adaptif dan akomodatif sesuai dengan konteks perdagangan yang semakin kompleks," tutup Firman.

3 Permintaan Khusus Presiden Jokowi kepada Mendag Lutfi

Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi, menyebut telah diberi tiga pekerjaan rumah (PR) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, PR utama ialah terkait kestabilan harga dengan menjaga tingkat inflasi.

"Pak Jokowi pesan tiga hal. Pertama adalah menjaga dari kestabilan harga, terutama inflasi," ujar dia usai Serah Terima Jabatan dalam siaran virtual Youtube Kementerian Perdagangan, Rabu (23/12).

Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat itu mengatakan, tugas selanjutnya adalah membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) domestik untuk menembus pasar ekspor. Bila perlu dengan melibatkan balai pelatihan ekspor untuk memperkuat struktur UMKM.

"Kedua, beliau titip pesan bahwa mesti dibantunya UMKM terutama untuk pasar pasar ekspor diperbaiki strukturnya. Kalau perlu panggil konsultan daripada balai pelatihan ekspor," paparnya.

Terakhir, memperluas pasar ekspor hingga ke sejumlah negara non tradisional. Antara lain dengan memanfaatkan sejumlah kerja sama ekonomi internasional yang telah dibuat pemerintah Indonesia.

"Bagaimana menembus pasar-pasar non tradisional dengan cara perundingan dari pada economic agreement yang sudah menandatangani beberapa yang penting. Jadi ini adalah bagian-bagian utama yang akan kita pelajari sesuai dengan keinginan bapak presiden," tutupnya.

Rekomendasi