3 Hal yang Bisa Selamatkan Indonesia dari Jurang Resesi Ekonomi

Founder dan Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, mengatakan Indonesia mempunyai peluang besar untuk terhindar dari jurang resesi tahun ini. Dengan catatan pemerintah mampu memaksimalkan kinerja dua sektor yang dianggap berpotensi terus tumbuh positif di tengah pandemi Covid-19.

Sulaeman
Oleh Sulaeman - Reporter
3 Hal yang Bisa Selamatkan Indonesia dari Jurang Resesi Ekonomi
krisis ekonomi. shutterstock

Founder dan Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, mengatakan Indonesia mempunyai peluang besar untuk terhindar dari jurang resesi tahun ini. Dengan catatan pemerintah mampu memaksimalkan kinerja dua sektor yang dianggap berpotensi terus tumbuh positif di tengah pandemi Covid-19.

"Apakah indonesia berpotensi terhindar dari resesi akibat pandemi ini? Ya sangat memungkinkan. Namun, pemerintah harus mengoptimalkan kinerja dua sektor yang mampu menyelamatkan ekonomi kita, pertama adalah sektor pertanian dan industri manufaktur," jelas dia dalam diskusi virtual bertajuk 75 Tahun Merdeka Saatnya Re-Formasi Ekonomi, Jumat (21/8).

Lanjutnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan sektor pertanian di kuartal II tahun ini menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Di mana, PDB pertanian tumbuh 16,24 persen pada triwulan-II 2020 (q to q), sementara secara year on year tumbuh 2,19 persen.

Selain itu, pertanian juga diyakini mampu menyerap angka lapangan kerja yang cukup tinggi. Mengingat Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang masih melimpah dan belum dimanfaatkan sepenuhnya.

"Kita lihat data BPS mencatat, pertanian masih mampu tumbuh positif. Sektor ini pula juga berpotensi menyerap banyak tenaga kerja dengan kekayaan sumber daya ybag dimiliki," jelasnya.

Sehingga untuk menggeliatkan ekonomi nasional, pemerintah harus berfokus pada pengembangan hilirisasi produk pertanian, inovasi, dan regenerasi petani milenial. Imbasnya sektor pertanian Indonesia berpotensi terus tumbuh positif kendati pandemi Covid-19 masih belum mampu diatasi sampai saat ini.

Potensi serupa juga dapat dimanfaatkan dari industri manufaktur. Di mana, sektor ini mampu memberikan sumbangsih hingga 20 persen terhadap PDB Indonesia dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah lebih gencar untuk mendorong industri pengolahan yang berorientasi ekspor. Diantaranya melalui percepatan penetrasi ke pasar yang ekonominya cepat pulih, seperti China. Mengingat negara tersebut mampu bangkit dan menunjukkan pertumbuhan yang positif setelah sebelumnya mengalami kontraksi hingga 6,8 persen.

"Artinya kita punya potensi besar untuk terus menggenjot kinerja manufaktur. Kita lihat China sudah mampu tumbuh positif hingga 6,8 persen. Harusnya kita mampu, pasar dalam negeri kita saja masih terbuka luas," jelasnya.

Konsumsi Rumah Tangga

Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II membuat kemungkinan resesi semakin lebar. Namun, bukan berarti resesi tidak bisa dihindari. Mengingat kue perekonomian Indonesia paling banyak dari rumah tangga sehingga diperlukan langkah yang tepat untuk menjaga konsumsi rumah tangga.

"Setiap negara ini mendapatkan dampak yang berbeda-beda, tergantung kebijakan. Faktanya banyak negara-negara yang bisa menghadapi resesi akibat covid ini, tapi ada negara dengan respon yang tidak pas itu mereka menghadapi dampak yang jauh lebih dalam. Satu karena respon kebijakannya, yang kedua karena memang struktur ekonominya," ungkap Hendri Saparini.

Sebagai contoh, Hendri menyebutkan Singapura sebagai negara yang perekonomiannya tergantung pada negara lain. "Misalnya Singapura, mau membuat respon kebijakan yang secepat apapun tapi karena struktur ekonomi mereka itu tergantung kepada ekonomi lingkungan dia. Selama Indonesia belum bangkit, Malaysia belum, dan sekitarnya, ya mereka akan sulit sekali," kata dia.

Sementara Indonesia, dengan cakupan konsumsi rumahtangga yang besar, mestinya bisa untuk tidak terkontraksi lebih dalam lagi. "Indonesia semestinya kalau kita bisa nggak sih jangan terlalu dalam kontraksinya. Karena ruang kita itu jauh lebih lebar dibanding setidaknya Singapura dan Malaysia, yang struktur ekonominya itu porsi dari investasi dan juga perdagangan internasional sangat besar," beber Hendri.

"Jadi kalau tidak melakukan transaksi ya dia tidak akan bisa memiliki market, tidak bisa transaksi. Tapi Indonesia dengan 58 persen kue itu dari konsumsi rumah tangga. Selama konsumsi rumah tangga ini ekstrimnya semua dipenuhi (maka masih ada peluang menghindari resesi)," sambung dia.

Reporter: Pipit Ika Ramadhani

Sumber: Liputan6

Rekomendasi