Perkembangan teknologi terus membawa perubahan sosial di masyarakat, terutama di Indonesia. Dalam istilahnya telah terjadi digital paradox, di mana digital memberikan peluang kepada semua orang dan negara untuk berkembang, bahkan melakukan leap frog.
Namun di sisi lain, teknologi juga memperbesar kesenjangan apabila tidak memiliki kemampuan untuk mengakses dan memanfaatkan, serta bertransformasi. Sebab, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kendala akses terhadap berbagai hal termasuk teknologi, yang menimbulkan gap.
"Saya ambil contoh UMKM yang sudah bisa menggunakan teknologi digital bisa menggunakan e-commerce, meskipun terkena PSBB tidak bisa melakukan produksi seperti biasanya, mereka tetap bisa berjualan, tapi UMKM yang tidak bisa menggunakan digital ya dianggap ngapa-ngapain lah ibaratnya begitu," kata Staf Ahli Bidang Transformasi Digital, Kreativitas, dan Sumber Daya Manusia Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Mira Tayyiba di Jakarta, Selasa (16/5).
Digital gap ini, lanjut Mira, juga terjadi di pemerintah, misalnya ketika dua K/L harus menyusun kebijakan secara bersama, di mana salah satu pihak sudah paham potensi ekonomi digital, sementara lainnya belum menguasai isu atau tema tersebut.
"Banyak isu pembangunan yang sifatnya lintas, apabila kemampuan dan cara pikir ini berbeda dan harus membuat kebijakan bersama, ini akan sulit," ujar Mira
"Jadi sekali lagi pada saat bicara digital yang harus ditanamkan pertama kali bagaimana digital ini harus bisa melayani semuanya, artinya inklusif," sambung dia.
Advertisement
Tingkatkan Inklusif Digital
Menurut Mira, beberapa hal yang harus diperhatikan untuk inklusivitas digital ini.Pertama yaitu infrastruktur, baik itu jaringan telekomunikasi melalui backbone, backhaul, dan last mile, juga jaringan listrik. Termasuk aplikasi lokal dan infrastruktur data, baik data center maupun cloud.
Selanjutnya, literasi digital dan digital talent, yakni kemampuan untuk menggunakan media digital dan memanfaatkannya dengan sehat, bijak, cerdas, dan patuh hukum. Selain itu, juga kemampuan untuk memilah informasi dan memanfaatkan emerging technology. Kemudian Mira juga mengatakan pentingnya pola pikir dan budaya digital.
"Kita memang punya wawasan jangka panjang, tapi kita harus mampu mengoperasionalkan ke langkah jangka pendek serta bergerak cepat dan fleksibel sesuai dengan dinamika situasi," beber Mira.
Terakhir, ada agility yang bisa digunakan untuk memecah silo, atau sekat-sekat, begitu juga dengan kolaborasi penta helix Academy, Business, Community, Government, dan MEdia.
"Media berperan untuk memperkenalkan budaya digital karena ini harus masif, harus semua orang bisa menggunakan digital, maka kita sangat memerlukan peran media untuk mengedukasi," pungkas dia.