Perum Bulog akan menyalurkan bantuan sosial (bansos) berupa beras sebanyak 25 kilogram (kg) untuk 1,4 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di wilayah Jabodetabek. Penyaluran bansos tersebut akan dilakukan dalam dua periode.
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Tri Wahyudi Saleh menjelaskan, untuk periode pertama telah berjalan sejak 5 Mei hingga 18 Mei 2020, sedangkan periode kedua dilakukan pada 1 sampai 14 Juni 2020.
"Ini tentu bagus sekali untuk Bulog karena ada perputaran stok karena dari program ini dengan total sekitar 75 ribu ton beras yang kita salurkan. Di sisi lain, kita tetap menyerap gabah dari petani," kata Tri seperti dikutip melalui keterangan resminya, Senin (18/5).
Dia mengatakan, distribusi beras bantuan sosial oleh Bulog nantinya tidak hanya menyasar wilayah Jabodetabek. Misalnya di Kalimantan Barat, pemerintah daerah setempat meminta Bulog untuk menyediakan beras sebanyak 6.000 ton untuk bansos.
Pun di Jawa Barat, BUMN pangan ini turut mengisi distribusi beras untuk paket bansos kepada dua juta KPM selama empat bulan. "Jadi banyak daerah dengan anggarannya sendiri meminta Bulog untuk menyediakan beras," lanjutnya.
Advertisement
Meski permintaan beras semakin meningkat di tengah pandemi covid-19, Bulog memastikan ketersediaan stok di gudang Bulog masih memadai. Mengingat total ketersediaan beras di gudang sebanyak 1,3 juta ton. Lebih jauh, Tri menyatakan Bulog ditargetkan menyerap stok beras pada rentang satu juta ton hingga 1,5 juta ton sesuai instruksi pemerintah.
Untuk itu, Bulog berharap kepada pemerintah agar dapat memberikan pengalokasian cadangan dana untuk memperkuat penyerapan gabah petani. Sebab, rata-rata harga gabah petani masih di atas acuan harga pembelian sebesar Rp4.200 per kg.
Adanya cadangan dana dianggap dapat membantu Bulog untuk membeli gabah petani dengan harga di atas acuan tersebut. "Mudah-mudahan sih ada keputusan dari pemerintah. Saat ini kita masih tetap pakai dana yang kita punya sendiri untuk membeli gabah petani," tegasnya.