BI Ungkap 3 Pendorong Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I Bisa di Bawah 1,5 Persen

Bank Indonesia (BI) menyebutkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal I-2020 lebih rendah dari perkiraan, yaitu di bawah 1,5 persen PDB. Ada tiga faktor yang membuat defisit transaksi berjalan lebih rendah dari perkiraan awal.

Rita
Oleh Rita - Reporter
BI Ungkap 3 Pendorong Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I Bisa di Bawah 1,5 Persen
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat menyampaikan media briefing. ©2020 dok.Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) menyebutkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal I-2020 lebih rendah dari perkiraan, yaitu di bawah 1,5 persen PDB. Ada tiga faktor yang membuat defisit transaksi berjalan lebih rendah dari perkiraan awal.

"Angka ini jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 2,5 persen sampai 3 persen PDB," ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, di Jakarta, Jumat (16/4).

Perry mengungkapkan faktor pertama ialah pandemi Covid-19 berdampak pada kinerja neraca dagang karena penurunan ekspor. Menyusul permintaan dan harga komoditas yang menurun, serta terganggunya rantai perdagangan dunia.

"Ekspor kenaikannya tidak setinggi yang diperkirakan. Tetapi penurunan impor juga terjadi, termasuk impor bahan baku. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi dalam negeri menurun selama periode Covid-19," kata Perry.

Kedua, lanjut Perry, defisit neraca jasa untuk biaya angkut transportasi impor, mengalami penurunan, sejalan dengan penurunan kegiatan impor. "Dengan impor turun tajam, kebutuhan devisa untuk membayar transportasi dan asuransi impor juga menurun," ujarnya.

Penurunan Devisa Turis Lebih Rendah

Terakhir, atau ketiga, awalnya BI mempertimbangkan devisa dari sektor pariwisata yang diperkirakan mengalami penurunan lebih rendah. "Estimasi kami triwulan I-2020, waktu itu lebih banyak menghitung penurunan devisa inflow turis," kata Perry.

Selain devisa dari turis yang datang ke Indonesia berkurang, dia mengatakan wisatawan dalam negeri yang ingin berpergian keluar negeri juga berkurang dikarenakan adanya pembatasan global, seperti kegiatan umrah. "Sehingga kepergian ke luar negeri dari warga negara Indonesia ikut turun drastis."

"Tapi, untuk turis keluar yang tak kami perhitungkan sebelumnya terjadi karena penurunan USD 1,6 miliar," lanjutnya.

Sehingga, secara nett penurunan devisa turis tidak setinggi perkiraan sebelumnya. Sebelumnya, BI memperkirakan penurunan devisa dari inflow turis sebesar USD 2 miliar pada kuartal I-2020. "Secara perlahan perekonomian akan kembali naik pada triwulan IV. Namun secara keseluruhan CAD tahun ini akan lebih rendah," pungkas dia.

Reporter: Pipit Ika Ramadhani

Sumber: Liputan6

Rekomendasi