Rupiah tengah melemah, obligasi jangka pendek lebih dilirik

Executive Vice President Intermediary Business PT Schroder Investment Management Indonesia, Renny Raharja, mengatakan obligasi jangka pendek kini berpotensi menjadi pilihan. Imbal hasil obligasi di Indonesia saat ini untuk jangka waktu 10 tahun sebesar 7,8 persen. Imbal hasil obligasi bertenor setahun 7,4 persen.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Rupiah tengah melemah, obligasi jangka pendek lebih dilirik
Rupiah tengah melemah, obligasi jangka pendek lebih dilirik

Ketidakpastian ekonomi RI akibat sentimen global berpengaruh pada sektor investasi. Investor kini dinilai lebih tertarik pada surat utang (obligasi) berjangka pendek.

Executive Vice President Intermediary Business PT Schroder Investment Management Indonesia, Renny Raharja, mengatakan obligasi jangka pendek kini berpotensi menjadi pilihan.

"Karena tekanan Rupiah belum mereda, investor lebih menginginkan imbal hasil (yield) yang lebih besar. Jadi obligasi jangka pendek bisa jadi option," tutur dia di Jakarta, Kamis (5/7).

Kata Renny, imbal hasil obligasi di Indonesia saat ini untuk jangka waktu 10 tahun sebesar 7,8 persen. Sementara itu, untuk imbal hasil obligasi bertenor setahun sebesar 7,4 persen.

"Mereka ingin yield lebih tinggi karena memperhitungkan aspek dari Rupiah ini nantinya kepada total return yang mereka harapkan. Mereka minta lebih tinggi karena tekanan Rupiah yang akan berdampak pada imbal hasil mereka," ujarnya.

Renny menambahkan hal ini seperti terlihat dari dana kelolaan oleh perseroan. Hingga akhir Juni 2018, perseroan mencatatkan dana kelola sebesar Rp 83,2 triliun.

"Ini tercermin dari reksadana yang dikelola Schroders Indonesia. Per akhir Juni 2018 Schroders Indonesia memiliki dana kelolaan sekitar Rp 83,2 triliun. Reksa dana yang menjaring paling banyak dana kelolaan adalah reksa dana campuran dan obligasi jangka pendek," tandasnya.

Reporter: Bawono Yadika

Sumber: Liputan6

Halaman
Rekomendasi