International Trademark Association (INTA) atau Asosiasi Merek Dagang Internasional telah melakukan studi terhadap merek dagang yang memberikan kontribusi kepada ekonomi di lima negara ASEAN, termasuk Indonesia.
INTA mencatat, industri di Indonesia yang secara intensif menggunakan merek dagang memberikan kontribusi sebesar 21 persen pada PDB dan 51 persen kontribusi secara tidak langsung lewat alur supply chain pada 2012 hingga 2015 lalu.
Anggota INTA, Gunawan Suryomurcito menuturkan, industri yang banyak menggunakan merek dagang di Indonesia menyumbangkan 27 persen saham ekspor negara, termasuk industri manufaktur makanan yang menyumbang sekitar 19 persen dari total. Dalam hal penyediaan lapangan kerja, pekerja di industri merek dagang intensif intensif mewakili 26 persen dari total lapangan kerja.
"Industri yang menggunakan merek dagang secara intensif terbukti memberikan dampak positif terhadap ekonomi di pasar-pasar besar kawasan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia," katanya, di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (14/9).
Dia mengatakan, studi baru ini menunjukkan hubungan antara industri yang secara intensif menerapkan merek dagang dan dampak yang diberikan terhadap pertumbuhan lapangan kerja, pembangunan ekonomi dan perdagangan internasional. "Dan perannya dalam memberikan peluang bagi pertumbuhan ekonomi lebih besar melalui dukungan penggunaan merek dagang dan brand-brand di Indonesia," tandasnya.
Berikut kontribusi lima negara terhadap PDB, ketenagakerjaan, pangsa pasar dan kontribusi tidak langsung terhadap PDB di lima negara berdasarkan studi tersebut.
Thailand, kontribusi langsung PDB 22 persen, kontribusi tidak langsung PDB 40 persen, ketenagakerjaan 13 persen, dan pangsa ekspor 60 persen.
Malaysia, kontribusi langsung PDB 33,3 persen, kontribusi tidak langsung PDB 60 persen, ketenagakerjaan 24 persen, dan pangsa ekspor 55 persen.
Filipina, kontribusi langsung PDB 17 persen, kontribusi tidak langsung PDB 41 persen, ketenagakerjaan 15 persen, dan pangsa ekspor 47 persen.
Indonesia, kontribusi langsung PDB 21 persen, kontribusi tidak langsung PDB 51 persen, ketenagakerjaan 26 persen, dan pangsa ekspor 27 persen.
Singapura, kontribusi langsung PDB 50 persen, kontribusi tidak langsung PDB 55 persen, ketenagakerjaan 29 persen, dan pangsa ekspor 60 persen.