Di Amerika tak lagi disukai, seperti ini nasib Hooters Indonesia

Laporan industri makanan dan minuman Amerika Serikat (AS), jumlah restoran Hooters turun lebih dari tujuh persen sejak 2012 hingga 2016. Kinerja penjualan mereka stagnan sehingga banyak pemilik memilih gulung tikar. Konsumen muda di AS, disinyalir sudah tidak lagi tertarik dengan konsep pelayanan wanita umbar payudara.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Di Amerika tak lagi disukai, seperti ini nasib Hooters Indonesia
hooters. Rodolfo Arpia / Shutterstock.com

Hooters, di negara asalnya, sedang mengalami kemunduran bisnis. Sejumlah gerai terpaksa tutup karena sepi pembeli.

Dilansir dari Business Insider, berdasarkan laporan industri makanan dan minuman Amerika Serikat (AS), jumlah restoran Hooters turun lebih dari tujuh persen sejak 2012 hingga 2016. Kinerja penjualan mereka stagnan sehingga banyak pemilik memilih gulung tikar.

Konsumen muda di AS, disinyalir sudah tidak lagi tertarik dengan konsep pelayanan wanita umbar payudara. Terbukti, restoran serupa seperti Hooters, yakni Twin Peaks sudah melakukan terobosan dengan menjanjikan pelayan yang lebih seksi. Namun nyatanya juga tidak banyak membantu menarik pengunjung.

Bagaimana dengan Hooters di Indonesia? General Manager Hooters Jakarta, Sherry Suradji, mengatakan tidak ada penolakan terhadap kehadiran restoran ini di Indonesia. Pengunjung tetap berdatangan tiap harinya.

"Dapat di katakan bahwa Hooters Jakarta sudah di terima oleh masyarakat. Dan bagi masyarakat luas yang awalnya bernegative thinking, tetapi begitu kami buka, pandangan mereka berubah dan menerima kami," ujarnya kepada merdeka.com.

Saat kami mengunjungi Hooters Jakarta, memang tampak restoran ini memilih berbeda dari cabang lain di luar negeri. Mereka tidak terlalu mengumbar payudara pelayan seperti laiknya Hooters di luar negeri. Meski tetap memakai atasan tanktop, namun tidak dengan belahan dada rendah.

Salah seorang pelayan Hooters Jakarta, Ratu, mengatakan dirinya tidak merasa mengumbar anggota tubuhnya saat memakai seragam kerja. Menurutnya, dengan konsep kafe olahraga yang diusung Hooters, maka pakaian kerjanya dinilai sudah sesuai.

"Tidak sih untuk outfit biasa aja ini cuma pakai tanktop sama rok tenis gitu. Saya juga pake stocking," tegasnya.

Hanya memang harus diakuinya tetap ada satu dua pengunjung yang kerap menggodanya saat bekerja. "Yang sampai ngeluarin kata-kata tidak sopan ya ada, ngomongnya menjurus kurang ajar. Dia (pengunjung) sih anggapnya bercanda ya," ungkapnya.

Namun, wanita cantik ini bisa tenang karena pihak keamanan Hooters Jakarta cukup tegas. "Kalau ada yang macem-macem kan nanti ada security yang langsung bawa keluar. Memang sudah ada kebijakannya," pungkasnya.

Sabtu lalu, kami mengamati Hooters Jakarta sejak buka toko. Di siang hari, memang restoran tampak sepi. Pengunjung baru berdatangan saat hari mulai malam.

Seorang pengujung yang enggan disebutkan namanya menilai bahwa Hooters Jakarta tidak terlalu vulgar mengumbar anggota tubuh pelayan. Maka dari itu, pria tersebut tak masalah membawa anak laki-lakinya untuk makan di sana.

"Anak sepertinya tidak merasa terganggu kok. Kita lihatnya juga pelayan tidak terlalu vulgar ya, makanya kami ke sini," ujar pria yang tahun ini akan berumur 30 tahun itu.

Pengunjung lain, Zaky (22), mengatakan pelayan bukan faktor utama dirinya datang ke Hooters. Akan tetapi, dirinya menyukai penataan ruang, suasana, dan konsep layanan Hooters Jakarta.

"Tempatnya cozy, enak buat hangout bareng teman-teman juga, apalagi untuk nonton bareng pertandingan olahraga gitu kaya sepak bola ya. Karena ini kan bar sport sih ya," tuturnya.

Rekomendasi