Januari 2017, target ESDM agar PLTU Tenayan sudah dapat beroperasi

PLTU Tenayan Unit 1 ditargetkan sudah dapat beroperasi secara komersial (COD) pada Januari 2017, sehingga diharapkan dapat memberikan tambahan pasokan listrik pada sistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), khususnya daerah Riau. Sedangkan untuk PLTU Unit 2 ditargetkan dapat menyusul segera COD pada Maret 2017.

Ibnu Siena
Oleh Ibnu Siena - Reporter
Januari 2017, target ESDM agar PLTU Tenayan sudah dapat beroperasi
Menteri Jonan tinjau PLTU Batang. ©2016 merdeka.com/parwito

Januari 2017, target ESDM agar PLTU Tenayan sudah dapat beroperasiMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan didampingi Gubernur Riau, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, dan Direksi PT PLN (Persero) pada hari Minggu (18/12) meninjau proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tenayan (2x110 MW) di Pekanbaru, Riau. Progres pembangunan PLTU sudah mencapai 95% per November 2016. PLTU Tenayan Unit 1 ditargetkan sudah dapat beroperasi secara komersial (COD) pada Januari 2017, sehingga diharapkan dapat memberikan tambahan pasokan listrik pada sistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), khususnya daerah Riau. Sedangkan untuk PLTU Unit 2 ditargetkan dapat menyusul segera COD pada Maret 2017.Dengan beroperasinya PLTU Tenayan maka sistem kelistrikan Riau dinilai mampu memnuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, rata-rata sembilan persen pertahun."Apabila PLTU Tenayan beroperasi, maka akan ada tambahan 220 MW, ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi pasokan listrik di Riau" papar Jonan.Jonan juga mengungkapkan ketersediaan dan keberlangsungan bahan baku harus menjadi perhatian utama. "Permintaan saya agar pasokan batubara untuk PLTU ini terjamin, tidak akan terhenti, juga dicarikan alat agar konsumsi energi dari 900 gr/KWH menjadi 500 gr/kwh sehingga lebih efisien, agar tarif listriknya lebih baik," pungkas Jonan.Saat ini Provinsi Riau masih mengalami defisit pasokan tenaga listrik dan ditambah dengan peningkatan konsumsi, dimana beban puncak 225,08 MW, sedangkan pembangkit listrik hanya mampu memasok 190,8 MW, sehingga terjadi defisit. PT PLN (Persero) menyiasati hal ini dengan mengambil pasokan sebesar 32,2 MW dari Sub Sistem Sumatera Bagian Utara.Untuk mengatasi defisit listrik ini Pemerintah juga mendorong para produsen CPO (Crude Palm Oil) memiliki pembangkit mandiri, sehingga tidak sepenuhnya bergantung terhadap pasokan listrik PLN khususnya di wilayah Riau dan sekitarnya. Salah satunya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirenti yang berkapasitas 2 kali 100 MW. PLTU yang berada di mulut Tambang PT Tambang Batubara Bukit Asam tbk itu dapat dimaksimalkan penggunaannya.

Rekomendasi