Ekonomi Arab Saudi saat ini dilanda masalah besar. Setelah bertahun-tahun memompa minyak dan menjualnya dengan harga tinggi, Arab saudi kini terjepit karena harga minyak dunia yang merosot tajam.
Harga minyak dunia anjlok lebih dari 50 persen dalam 18 bulan. Sempat menyentuh harga di atas USD 100 per barel, kini harga minyak dunia bertahan di bawah USD 50 per barel.
Arab Saudi akhirnya mencari utang untuk menutupi belanja negaranya. Mereka telah meminjam uang atau menambah utang sebesar USD 4 miliar melalui penerbitan obligasi pada tahun lalu. Ini adalah untuk pertama kalinya dalam 8 tahun terakhir.
Tidak berhenti di situ, krisis keuangan memaksa Arab saudi kembali mengambil dana investasi luar negeri mereka yang disimpan lembaga pengelola aset global, BlackRock. Kebijakan ini diambil karena cadangan devisa mereka telah terkuras hampir USD 73 miliar untuk mempertahankan ekonomi dan mendanai kampanye militer di Yaman.
"Bank sentral Saudi telah menghabiskan USD 50 miliar hingga USD 70 miliar lebih selama enam bulan terakhir," ucap CEO Insigh Discovery, Nigel Sillitoe.
Defisit anggaran Saudi diperkirakan akan mencapai 20 persen dari PDB di 2015. Angka ini luar biasa tinggi karena biasanya negara ini mengalami surplus. Capital Economics memperkirakan pendapatan pemerintah akan turun USD 82 miliar di tahun ini atau setara dengan 8 persen PDB. Bahkan IMF memprediksi defisit anggaran di Saudi akan terjadi hingga 2020 silam.
Meski demikian, Arab Saudi tetap ngotot terus memompa minyak meski cadangan melimpah.
Advertisement
Harga minyak dunia merosot karena pasar saat ini kelebihan pasokan. Selain itu, pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia, khususnya China juga memperparah keadaan karena permintaan terus menurun.
Harga minyak dunia masih bertahan rendah di bawah USD 40 per barel di perdagangan Asia kemarin. Kartel minyak OPEC dan Arab Saudi tetap memutuskan untuk tidak akan mengurangi produksi dan pedagang akhirnya mengalihkan perhatian pada pertemuan bank sentral AS pekan depan.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 33 sen menjadi USD 39,64 per barel, dan minyak mentah Brent untuk Januari diperdagangkan 22 sen lebih rendah pada UASD 42,78 per barel pada sekitar pukul 06.55 GMT.
Pada pertemuan OPEC di Wina, pekan lalu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan menentang pengurangan produksi untuk menaikkan harga.
OPEC, yang anggotanya secara bersama-sama memproduksi lebih dari sepertiga minyak dunia, saat ini memproduksi di atas target resmi dari 30 juta barel per hari, meskipun pasokan minyak mentah global yang membanjir telah terus-menerus memukul harga selama lebih dari setahun.
"Harga minyak mentah tidak diragukan lagi tertekan oleh kurangnya kesepakatan di OPEC, menandakan bahwa kelebihan pasokan akan bertahan lebih lama," kata Bernard Aw, analis pasar di IG Markets.
"WTI diperdagangkan di bawah tingkat penting USD 40 per barel dan tampaknya akan tetap di sana." ucap Sanjeev Gupta, yang mengepalai praktik minyak dan gas Asia-Pasifik di perusahaan jasa profesional EY seperti dilansir Antara.
Pedagang dan pasar saat ini bergantung pada bank sentral AS.
Advertisement
Sanjeev Gupta mengatakan perhatian pasar kini berbalik ke pertemuan pembuat kebijakan Federal Reserve mendatang dan data ekonomi terbaru dari China sebagai konsumen utama energi dunia.
Para pedagang sedang memantau apakah The Fed akan menaikkan suku bunganya bulan ini, sebuah langkah yang akan meningkatkan nilai tukar dolar. Mata uang AS yang kuat akan membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lemah, sehingga mengurangi permintaan dan harga.
"Sementara semua mata sekarang tertuju pada pertemuan Federal Reserve minggu depan untuk pertemuan kebijakan terakhir tahun ini guna memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga acuannya, data ekonomi dari China akan mengatur nada dari harga di minggu-minggu mendatang," kata Gupta.
Dia mengatakan dolar juga mendapat dorongan dari laporan ketenagakerjaan AS yang kuat pada Jumat lalu. Laporan ini memperkuat kasus untuk kenaikan suku bunga The Fed, kata para analis.
Jika The Fed tidak menaikkan suku bunga dan Saudi tetap memompa minyak maka harga diprediksi akan jatuh hingga USD 20 per barel.
Advertisement
Arab Saudi dan OPEC telah memutuskan tidak akan memangkas produksi meski harga minyak dunia bertahan rendah. Ini mengancam harga minyak untuk tahun depan yang diprediksi bisa terjun bebas ke USD 20 per barel.
"Dampak pertemuan mungkin akan mempercepat turunnya harga minyak, mereka akan lebih rendah," ucap Ketua dan CEO CEF Holdings, Warren Gilman seperti dilansir CNBC, Selasa (8/12).
"Ada bagian lain yang menjadi faktor kombinasi. Akan ada peristiwa geopolitik, anggaran. Tapi, tidak ada pertanyaan akankah harga minyak turun ke USD 30 per bare atau lebih rendah? Apakah lebih rendah dari itu dan menyentuh USD 20 per barel? Menurut saya itu cukup mungkin terjadi di 2016 mendatang," sambungnya.
Meski Arab Saudi menderita karena keterbatasan anggaran dan anjloknya nilai tukar, negara tersebut diperkirakan akan mampu bertahan selama 18 bulan.
"Arab Saudi memiliki banyak kapasitas pinjaman. Kalau perlu mereka akan meminjam untuk mempertahankan mata uang dan pendapatan negara, dia akan melakukannya saya percaya Saudi memiliki kapasitas untuk melakukan semua itu," kata Gilman.
Gilam mengatakan, pasar sangat berharap ada keseimbangan pasokan dan permintaan minyak mentah di akhir 2016 atau pertengahan 2017 mendatang.