Membongkar bisnis sperma dunia yang sedang kekurangan pasokan

Kekurangan pasokan sperma dirasakan banyak negara dunia seperti Amerika Serikat, China, Selandia Baru serta Israel.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Membongkar bisnis sperma dunia yang sedang kekurangan pasokan
Sperma. © Salon.com

Fakta mencengangkan datang dari bisnis jual beli sperma dunia. Secara global, pasokan sperma dunia sedang mengering karena banyaknya wanita yang mengunjungi klinik, sedangkan persediaan tidak bertambah.

Pemerintah Inggris sudah mendirikan bank sperma nasional pada tahun lalu. Namun, organisasi ini tetap tidak dapat memenuhi permintaan, bahkan mereka sampai iklan di radio untuk merekrut para pendonor.

Kekurangan pasokan sperma dirasakan banyak negara di dunia seperti Amerika Serikat, China, Selandia Baru serta Israel.

Menipisnya pasokan sperma dunia menjadi berita baik bagi Ole Schou. Dia sudah menghabiskan hampir 30 tahun membangun bisnis ekspor sperma ke seluruh dunia.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Schou mengelola Cryos International, salah satu bank sperma terbesar di dunia yang berada di Aarhus, Denmark. Perusahaan mengirim sperma ke lebih dari 80 negara dan telah melahirkan 27.000 bayi dari sperma yang terjual.

Di Indonesia, bisnis jual beli sperma mungkin masih tabu. Namun, di belahan dunia lain, sperma bisa menghasilkan uang dan menjadi pasar yang menguntungkan.

Namun demikian, bagaimana cara perusahaan mendapat pendonor?

Schou telah merekrut hampir 1.000 pendonor sperma yang dibayar USD 15 hingga USD 76 per sumbangan. Sampel sperma akan diuji dan kemudian dimasukkan dalam botol. Satu botol sperma ini bisa dijual mencapai USD 45 hingga USD 1.137, tergantung potensi dan profil pendonor sperma tersebut.

"Kami mengekspor 96 persen dari produksi kami. Kami semacam pabrik, dan kami mengutamakan kualitas," ucap Schou seperti dilansir dari CNN, Jumat (23/10).

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Ahli kesuburan mengatakan, tingginya permintaan sperma karena banyak wanita lajang dan sudah tua. Mereka ingin mempunyai anak dan keturunan, yang akibatnya permintaan terus naik.

"Pertumbuhan permintaan yang tinggi berasal dari wanita yang masih lajang, tumbuhnya 50 persen," tambah Schou. Perusahaan mengharapkan, permintaan sperma dari wanita lajang bisa meningkat 70 persen dalam lima tahun ke depan.

Donor sperma ternyata tidak semudah dibayangkan. Diperlukan teknologi agar sperma bisa tahan lama. Dari data perusahaan, hanya 10 persen dari sperma yang didonorkan bisa bertahan ketika dibekukan dan disimpan. Selain itu, mencari pendonor juga sangat sulit.

"Bagian yang sulit adalah merekrut mereka," kata Kepala bank sperma Inggris, Laura Witiens.

Banyak pendonor takut memberikan spermanya, kenapa?

Banyak pendonor sperma potensial takut ketika disuruh berkomitmen dengan klinik. Pasalnya, mereka diminta mendatangi klinik dua kali dalam seminggu selama sebulan. Kemudian, ada lagi aturan atau larangan mengenai seks, merokok, dan penggunaan obat.

"Ini tidak semudah yang diperkirakan," kata seorang profesor dari Duke University, Kimberly Krawiec.

Timpangnya antara pasokan dan permintaan telah menciptakan pasar yang kuat bagi negara surplus sperma seperti Denmark. Di Inggris, sekitar satu per tiga sperma adalah produk impor dengan porsi terbesar datang dari Denmark.

Informasi dari website perusahaan Cryos International, wanita dipersilakan memilih sperma berdasarkan etnis, warna rambut dan mata. Pria pendonor memberikan informasi pribadi yang menarik bagi pasien.

Dalam rangka memenuhi permintaan, perusahaan harus merekrut lebih banyak sperma dari etnis yang berbeda. Namun, data pencarian perusahaan, hanya sedikit yang mencari sperma pria asal Asia, Afrika serta Timur Tengah.

"Ini masalah bagi kami, kami berusaha merekrut orang dari latar belakang berbeda."

Schou kini telah mengembangkan usahanya dengan membangun klinik di Spanyol, Orlando dan Florida.

Rekomendasi