Anjloknya harga minyak mentah di pasar global menghantam perusahaan minyak dan gas dunia, termasuk Indonesia. Berbagai cara dilakukan perusahaan untuk mengurangi beban perusahaan, seperti pengurangan karyawan atau pekerja tambang.
Kepala Bagian Humas SKK Migas, Elan Biantoro mengatakan, saat ini gelombang PHK pekerja tambang sudah mulai terasa di Indonesia. Perusahaan migas beralasan kesulitan keuangan karena harga minyak dunia sempat menyentuh titik terendah yakni hanya USD 38 per barel.
"Perusahaan dunia sudah duluan mengurangi karyawan dan gelombang PHK ini akan masuk ke negara kita karena rendahnya harga minyak bumi," ucap Elan dalam acara diskusi di Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/9).
Elan mengakui, sudah ada beberapa pemecatan yang dilakukan perusahaan migas di dalam negeri. Namun Elan enggan menyebut nama perusahaan dan jumlah pekerja yang sudah dipecat.
"Sekarang sudah ada tapi sebatas ketenagakerjaan perencana (karyawan kontrak) dan kita coba pertahankan karyawan permanen. Kita akan coba tahan," jelasnya.
Untuk ke depannya, Elan tidak bisa mencegah gelombang pemecatan karyawan, khususnya karyawan pihak ketiga atau tenaga kerja kontrak.
"Sekarang dicoba efisiensi cara lain dengan menghentikan proyek yang tidak ekonomis. Pemain proyek utama kita pertahankan. Jangan sampailah (PHK). Walaupun ada itu pihak ketiga tadi," tegasnya.
PHK massal justru jadi komoditas politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah serentak Desember nanti. Isu PHK massal dijadikan bahan kampanye calon kepala daerah demi meraup suara.
"Kemarin saja ada PHK 20 driver (di-PHK) jadi isu calon kepala daerah," tutupnya.