Nilai tukar Rupiah saat ini cuma beda Rp 3.000 dibanding krisis 1998

Nilai tukar Rupiah pada Juni 1998 menyentuh Rp 16.800, terburuk sepanjang sejarah.

Wisnoe Moerti
Oleh Wisnoe Moerti - Reporter
Nilai tukar Rupiah saat ini cuma beda Rp 3.000 dibanding krisis 1998
Rupiah. ©2013 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Keputusan pemerintah China melemahkan nilai tukar Yuan berdampak besar pada pergerakan nilai tukar negara berkembang. Padahal, Yuan satu-satunya mata uang yang diharapkan bisa menyaingi kedigdayaan dolar Amerika Serikat.

Kebijakan moneter China itu langsung membuat nilai tukar Rupiah ambruk cukup dalam. Harapan penguatan Rupiah sirna. Dalam kurun waktu satu hari, kondisi Rupiah semakin parah. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, Rupiah langsung jatuh ke level Rp 13.758 per USD pada Rabu (12/8) dari sebelumnya Rp 13.541 per USD. Makin terpuruknya Rupiah menjadi 'kado spesial' lantaran terjadi tepat pada saat perombakan menteri-menteri yang didominasi menteri bidang ekonomi.

Tidak heran jika pelaku ekonomi dibayangi masa-masa krisis 1998. Mengingat saat ini, nilai tukar Rupiah hanya selisih Rp 3.000 dibanding nilai tukar saat krisis 1998. Pada Juni 1998, Rupiah berada di posisi Rp 16.800 per USD, nilai terburuk sepanjang catatan sejarah republik ini. Padahal setahun sebelum krisis terjadi, tepatnya 1997, Rupiah aman di angka Rp 2.400 per USD.

Saat itu, pergerakan keterpurukan Rupiah berlangsung cepat. Dari Rp 2.400 menjadi Rp 3.200 lalu bergerak ke level Rp 5.500 per USD. Ketika tanda-tanda krisis muncul, Rupiah langsung ambruk ke posisi Rp 15.400 per USD pada Januari 1998. Rupiah sempat mereda ke angka Rp 800 per USD pada Februari-Mei 1998. Namun itu ternyata hanya sementara. Badai lebih besar datang dan menghantam Rupiah level paling buruk yakni Rp 16.800 per USD pada Juni 1998.

Pada Juli 1998, Rupiah sempat kembali mereda ke angka Rp 8.000 per USD sebelum kembali bergejolak dan melonjak ke angka Rp 15.000 per USD di penghujung 1998. Kondisi Rupiah mulai membaik pada 1999 di mana nilai tukarnya Rp 6.000 per USD.

Krisis ekonomi dunia kembali menyapa pada 2008, disebabkan terpuruknya perekonomian negara maju, salah satunya Amerika Serikat. Rupiah kembali bergejolak dari angka Rp 7.000 per USD melesat ke Rp 11.000 per USD hingga ke posisi Rp 12.600 per USD.

Perekonomian Indonesia termasuk satu dari tiga negara yang cukup kuat bertahan dari hantaman krisis ekonomi global saat itu. Rupiah kembali ke jalurnya, Rp 8.000 per USD pada 2009.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Empat tahun kemudian atau pada 2013, Rupiah kembali bergejolak dan menyentuh angka Rp 11.500 per USD. Sejak saat itu, Rupiah terus menerus ambruk. Pada awal 2014 nilai tukar Rupiah ada di posisi Rp 12.170 per USD dan di akhir tahun menjadi Rp 12.700 per USD.

Pertengahan 2015 atau saat ini, Rupiah tak berdaya di level Rp 13.800 per USD. "Kondisi nilai tukar pada 2011, kala itu Rupiah masih bisa bertahan di level Rp 8.600 per USD. Sekarang sudah mencapai Rp 13.800 per USD berarti ada selisih Rp 5.100 per USD. Kita sudah terdepresiasi sekitar 60 persen," ujar ekonom Megawati Institute Iman Sugema kepada merdeka.com di Jakarta, Kamis (13/8).

Rekomendasi