Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Plt Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Chairul Tanjung sempat membahas terkait masalah pertumbuhan ekonomi yang dialami Indonesia. Menurut CT, sapaan akrabnya, Indonesia mengalami anomali di mana ingin ekonomi tumbuh tinggi akan tetapi kebutuhan listrik minim.Menurut CT, listrik menjadi kunci sebuah negara menjadi maju. Pasalnya, listrik dibutuhkan agar industri bisa terus berkembang. Jika industri berkembang, maka Indonesia baru bisa jadi negara maju."Untuk bisa jadi negara maju harus jadi negara industri, listrik kita harus cukup. Tanpa energi dan listrik cukup industri tidak berkembang, bagaimana jadi negara maju," ucap CT.Realitas kondisi kelistrikan Indonesia sangat menyedihkan. Di samping rasio elektrifikasi yang masih kecil, kapasitas infrastruktur kelistrikan Indonesia juga sangat jauh tertinggal. Hal ini berdampak pada tidak berkembangnya industri di dalam negeri.Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Tumiran, menyebut kapasitas kelistrikan Indonesia hanya 0,2 Kw per kapita. Angka ini tertinggal jauh dari Singapura yang mencapai 2,7 Kw per kapita dan Malaysia sebesar 0,95 Kw per kapita.Saat ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menargetkan, daya listrik Indonesia bisa mencapai 35 ribu mega watt selama lima tahun ke depan. Cara ini dipercaya sebagai solusi krisis listrik yang selalu menghantui Indonesia.Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjadi pemain utama program pemerintah untuk keluar dari masalah krisis listrik ini. Kini kursi pimpinan PLN baru saja berganti. Dari Nur Pamudji menjadi mantan bos Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sofyan Basyir.Sofyan tentu memiliki segudang permasalahan yang membutuhkan terobosan penyelesaian dirinya. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan permasalahan yang menimpa PLN membutuhkan solusi yang inovatif."Sebab, problem kelistrikan di Tanah Air tak akan bisa segera diurai jika tetap mengandalkan pendekatan bussiness as usual," ungkapnya.Lalu, apa saja pekerjaan rumah bos baru PLN ini? Berikut merdeka.com akan merangkumnya untuk pembaca.
Advertisement
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, Indonesia terancam krisis listrik. PT PLN dan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM harus segera bergerak cepat mengatasi masalah tersebut.Dia mengatakan, ada perbedaan yang sangat jauh antara pertumbuhan kebutuhan listrik dengan pembangunan pembangkit listrik. Pemerintah harus bekerja keras mengatasi perbedaan tersebut.Pemerintah sendiri menargetkan peningkatan ketenagalistrikan hingga 35.000 mega watt selama lima tahun bisa terpenuhi.Kebutuhan listrik nasional selalu meningkat saban tahun. Sudirman menyebut, setiap tahun Indonesia butuh tambahan 7.000 megawatt. Namun kemampuan dalam negeri hanya 2.000 megawatt.
Advertisement
Pemerintah menginstruksikan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menambah pasokan listrik sebesar 35.000 megawatt secara bertahap. Kebutuhan investasi untuk proyek itu diproyeksi Bappenas mencapai Rp 545 triliun.Mantan Direktur Utama PLN, Nur Pamudji mengatakan, dana investasi tersebut akan diambil dari berbagai sumber. Salah satu sumber utama adalah dana PLN sendiri.Selain itu, Nur juga mengatakan diharapkan adanya kerja sama dengan pihak swasta dan lembaga penyandang dana seperti Bank Dunia.Mengingat debt to equity ratio atau rasio utang terhadap modal PLN sudah mencapai 257 persen di mana artinya PLN sudah kesulitan untuk mencari pinjaman, maka Bappenas menyarankan PMN (Penyertaan Modal Negara) sebesar Rp 134 triliun agar PLN kembali sehat.
Advertisement
Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan perseroan harus segera memperbaiki kinerjanya. Protes yang disampaikan masyarakat dan keluhan dari kalangan industri harus menjadi cambuk agar perusahaan BUMN listrik ini bekerja lebih keras lagi."Ke depan perseroan harus mampu memberi solusi terhadap pemadaman listrik yang masih sering terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Bersamaan dengan itu, perseroan harus mampu mengefisienkan biaya produksinya," ujar Rini di Kementerian BUMN, Jakarta.Bahkan, untuk masyarakat di kawasan timur Indonesia, masih harus menerima kenyataan masih seringnya mati lampu atau pemadaman bergilir.Hal itu diungkapkan Manager Sub Logistik Packing Plan Sorong PT Semen Indonesia, Choiru Zaki. Dia mengakui, perseroan hingga saat ini dihadapkan seringnya mati listrik setiap hari. Sehingga biaya operasional industri meningkat."Di sini setiap hari malah bisa mati listrik sampai 10 kali per harinya, kalau begini terus ini yang membuat biaya operasional kita membengkak," ujarnya kepada wartawan.
Advertisement
Menteri BUMN menilai PLN juga harus mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. "Sangatlah ironis jika daerah-daerah yang disebut sebagai 'lumbung energi nasional' justri kerap mengalami pemadaman," jelas dia.Bahkan, sejumlah daerah harus mengimpor listrik untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mantan Direktur Utama PT PLN, Nur Pamudji mengakui pasokan listrik untuk Kalimantan masih sangat kurang. Terutama Kalimantan Barat. Daerah Kalimantan Barat kerap dilanda mati lampu bergilir karena tidak cukupnya daya PLN.Sebagai jalan keluar, bos PLN akan mengambil listrik dari Serawak, Malaysia. PLN akan bekerja sama dengan pemerintah Malaysia untuk membuat interkoneksi listrik Serawak dan Kalimantan"Kita akan interkoneksi listrik Serawak dan Kalimantan. Serawak ada 3.000 MW dan Kalimantan Barat 250 MW itu akan stabil nanti di Kalimantan," ucap Nur.
Advertisement
Anggota Dewan Energi Nasional Tumiran menilai, batu bara sebetulnya bisa mencukupi kebutuhan listrik dalam negeri hingga 2050. Masalahnya, produsen tambang terlalu eksploitatif dan hanya memikirkan keuntungan lewat ekspor.Mulai saat ini, sumber daya tidak terbarukan itu harus dianggap sebagai aset nasional dan dijaga agar jangan melulu diekspor."India punya batu bara saja tidak diekspor, China juga. Kebutuhan batu bara untuk listrik kita kira-kira 700 juta sampai 1 miliar ton, itu cukup lah, tapi harus disayang-sayang," kata Tumiran.