Wamen ESDM: Indonesia tak kaya minyak, jangan sok anti-impor

"Kalau ada yang tidak setuju, oke tidak apa-apa, ayo kita kembali ke zaman 1950-an, kita naik gerobak."

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Wamen ESDM: Indonesia tak kaya minyak, jangan sok anti-impor
Susilo Siswoutomo. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswo Utomo menegaskan Indonesia bukan lagi negara kaya minyak, sehingga impor energi fosil itu sulit dihindarkan. Cadangan minyak bumi terbukti (proven reserve) di Indonesia hanya 3,7 miliar barel.

"Allah memang sayang sama kita. Kita punya minyak dan gas, tapi tidak sebanyak di Venezuela, atau di Arab Saudi," kata Susilo, di Jakarta, Rabu (10/9).

Di Venezuela, lanjut Susilo, kandungan minyak sudah terbukti sekitar 300 miliar barel. Sementara, Arab Saudi 250 miliar barel.

Di sisi lain, dua negara itu memiliki jumlah penduduk yang lebih kecil ketimbang Indonesia. Dalam waktu dekat total populasi penduduk di Tanah Air mencapai 250 juta orang, belum ditambah jumlah kelahiran mencapai 3 juta bayi per tahun.

Berdasarkan data SKK Migas, produksi minyak nasional hanya 820 ribu barel per hari barel per hari (bph), kapasitas kilang nasional hanya 1 juta bph. Sementara kebutuhan BBM nasional mencapai 1,5 juta bph.

"Jadi tetap saja kita harus impor. Kalau ada yang tidak setuju, oke tidak apa-apa, ayo kita kembali ke zaman 1950-an, kita naik gerobak. Tidak apa-apa kita mati, asal bergaya (antiimpor)," kata Susilo.

Menurutnya, pengendalian konsumsi BBM subsidi perlu dilakukan. Namun, itu bukan berarti melarang semua kendaraan roda empat untuk mengonsumsi premium atau solar subsidi.

"Bayangkan kalau kita cut separuh kebutuhan, mobil-mobil tidak boleh pakai BBM subsidi, pertumbuhan ekonomi bagaimana? Bagaimana kita menyediakan lapangan kerja untuk anak muda?"

Rekomendasi