Limbung rokok kretek Indonesia

Pada 2013, penjualan SKT secara nasional langsung terjun bebas, menjadi cuma 74 miliar batang.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Limbung rokok kretek Indonesia
Sampoerna. sampoernastrategicsquare.com

Setelah melejit di era 1970 sejak 1960 mengalami goncangan dan mandek produksi. Kini, kondisi tersebut kembali melanda para produsen rokok. Padahal, untuk memproduksi seluruh SKT-nya, satu produsen rokok terbesar, Sampoerna selama ini memanfaatkan tujuh pabrik dan 38 perusahaan mitra.

Ekspansi dalam tiga tahun berturut-turut dilakukan dengan mengacu pada data pangsa pasar SKT di Indonesia meningkat tajam. Pada 2010, angka penjualan SKT sekitar 74 miliar batang, kemudian setahun berikutnya menjadi 79 miliar batang, dan 80 miliar batang pada 2012. Tetapi 2013, penjualan SKT secara nasional langsung terjun bebas, menjadi cuma 74 miliar batang.

Dalam laman Sampoerna disebutkan, pada era 1960-an, konsumsi kretek mandek dibandingkan rokok putih, karena dianggap memberikan para perokoknya citra yang lebih prestisius. Namun pada era 70-an, industri kretek mengalami revolusi, sehingga kretek dapat berjaya kembali.

Kini, Sampoerna pun mengaku salah perhitungan dalam ekspansi rokok kreteknya. Hanya perlu dua tahun, perusahaan yang kini dikuasai Philip Morris harus menutup dua pabriknya di Jawa Timur dan melakukan pemutusan hubungan kerja pada 4.900 pelinting rokok.

Manajemen Sampoerna mengakui keliru membaca perkembangan pasar rokok, khususnya jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Tanah Air. Ekspansi di Jawa Timur dilakukan, lantaran manajemen membaca data bahwa pangsa pasar SKT di Indonesia meningkat dalam tiga tahun terakhir, tetapi ternyata itu hanya sementara.

"Pada 2011 ada kenaikan (permintaan), karena ini SKT maka kalau butuh peningkatan kapasitas produksi ya menambah tenaga kerja," ujarnya kepada merdeka.com, di Jakarta, Rabu (26/5).

Manajemen mengaku tidak mengetahui mengapa konsumen ramai-ramai beralih membeli Sigaret Kretek Mesin (SKM) alias rokok filter serta produk mild dibandingkan rokok kretek."Yang bisa saya katakan preferensi konsumen berubah," ujarnya.

Kepala Divisi Hukum Komunitas Kretek Daru Supriyono menilai anjloknya pangsa pasar kretek, bukan sekadar alasan kesehatan tapi terkait politik dagang.

"Orang mau menanam tembakau saja sudah dikriminalisasi. Minat beli industri kecil menengah juga turun, dari hulu sampai hilir kretek dilarang. Akhirnya hanya akan diciptakan pasar oligopoli untuk produk rokok internasional," ungkapnya beberapa waktu lalu.

Rekomendasi