Sepanjang triwulan I tahun ini pertumbuhan kredit baru perbankan masih dalam tren melambat. Hal itu tercermin dari survei Bank Indonesia yang menyebut nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Perbankan triwulan I/2014 sebesar 21,7 persen, lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 88,5 persen.
"Survei menunjukkan perlambatan tersebut bersumber dari melambatnya seluruh jenis penggunaan kredit, terutama kredit konsumsi," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara dalam siaran pers, Jakarta, Selasa (15/4).
Menurutnya, penurunan kredit baru tersebut sejalan dengan proses moderasi perekonomian ke arah yang lebih sehat dan seimbang.
Sementara pada triwulan II 2014, hasil survei bank sentral memperkirakan adanya penguatan pertumbuhan kredit baru yang diiringi dengan kenaikan suku bunga kredit. Suku bunga kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi pada triwulan II 2014 diperkirakan mengalami kenaikan masing-masing menjadi 13,53 persen, 13,04 persen dan 14,82 persen.
"Pertumbuhan kredit pada tahun 2014 diperkirakan melambat menjadi 18 persen (yoy), lebih rendah dari perkiraan survei sebelumnya 19,1 persen (yoy)," jelas dia.
Perkiraan tersebut semakin mendekati target pertumbuhan kredit 2014 Bank Indonesia sebesar 15 persen-17 persen.
"Kenaikan suku bunga kredit dan meningkatnya tekanan NPL menjadi pertimbangan utama melambatnya pertumbuhan kredit," ungkapnya.