Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ciremai. Hal ini untuk menanggulangi ancaman krisis listrik di masa mendatang.
Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan pembangunan PLTP Gunung Ciremai membutuhkan biaya cukup besar. Dia mengatakan, nilai investasi PLTP ini mencapai USD 390 juta hingga USD 440 juta.
"Untuk pengeboran sumur saja butuh USD 10 juta," ujar Rida di kantornya, Jakarta, Rabu (5/3).
Lelang tersebut sudah dijalankan oleh Gubernur Jawa Barat pada 2012 dan telah diperoleh pemenang yakni PT Jasa Daya Chevron, anak usaha korporasi minyak Amerika Serikat Chevron. Rida mengatakan lahan yang ada di Gunung Ciremai seluas 24.000 hektar. Tetapi, tidak semua lahan akan dimanfaatkan untuk PLTP. "Paling hanya sekitar 8 hektar," kata dia.
Selanjutnya, Rida menjelaskan pasokan listrik yang mampu dihasilkan dari PLTP ini mencapai 110 MW dan akan masuk ke jalur transmisi Jawa Bali. Tetapi, pasokan itu baru dihasilkan dalam 6 tahun mendatang setelah pembangkit selesai dibangun.
"Cadangan terduga 110 MW. Tapi yang akan dikembangkan adalah 2 x 55 MW. Tapi itu baru tersedia tahun 2020, kalau semuanya lancar," ungkap dia.