Harga nikel turun, Vale Indonesia irit biaya produksi

Biaya untuk bahan bakar porsinya 39 persen dari keseluruhan biaya produksi.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Harga nikel turun, Vale Indonesia irit biaya produksi
Tambang Nikel. a2.sphotos.ak.fbcdn.net

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tengah berupaya melakukan efisiensi dalam proses produksi nikel. Biaya produksi harus ditekan untuk mengimbangi turunnya harga komoditas nikel.

Direktur Keuangan INCO Febriany Eddy menjelaskan, komponen biaya produksi terbesar berasal dari bahan bakar minyak (BBM) dan pelumas. Porsinya mencapai kisaran 39 persen dari keseluruhan biaya produksi.

"Kami ingin konversi yang tadinya BBM ke batu bara. Selain itu juga mengurangi High Sulphur Fuel Oil (HSFO) ke batu bara," ujar Febriany di Financial Club, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (26/11).

Febriany menambahkan, selama ini komponen HSFO banyak didatangkan dengan cara impor. Menggunakan batu bara bakal lebih menguntungkan lantaran bisa didatangkan dari Kalimantan.

Pihaknya mengaku sudah melakukan uji coba operasi mesin pengeringan nikel dengan energi batu bara. Mesin pengering itu ditargetkan sudah bisa dioperasikan secara penuh tahun depan.

Total biaya produksi INCO di kuartal III 2013 sebesar USD 596.044. Dari jumlah itu, biaya untuk BBM dan pelumas mengambil porsi USD 232.526. Bahan pembantu menghabiskan biaya USD 101.316 dan biaya depresiasi, amortisasi dan deplesi sebesar USD 82.066.

Febriany mengatakan, apabila produksi tahun depan diasumsikan sama dengan produksi tahun ini, maka total biaya produksi di tahun depan dapat ditekan 5 persen.

Rekomendasi