Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai transaksi yang terjadi sepanjang musim mudik 2013 mencapai Rp 89,4 triliun. BI sendiri telah mengantisipasi melonjaknya permintaan uang dengan menyiapkan uang sebesar Rp 84 triliun yang di dalamnya terdapat uang baru sebanyak Rp 56 triliun.
Namun, dengan menggunakan rasio money multiplier (pengganda uang) pada bulan normal yaitu sekitar 4,8 kali, maka uang beredar bisa mencapai Rp 430 triliun. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengatakan dilihat dari sisi ekonomi, aktivitas mudik dapat menciptakan peluang dan manfaat yang besar terhadap perekonomian nasional.
"Peluang pertama, aktivitas mudik akan menciptakan perputaran uang yang begitu besar dan cepat (velocity of money). Triliunan rupiah akan berpindah tangan dari kota ke kota, dari kota ke desa-desa dan perkampungan kecil. Tentu, secara agregat, nilai uang di sini bukan hanya berbentuk cash, namun juga bisa berupa perkakas elektronik, pakaian, bahan makanan, minuman, dan berbagai barang kebutuhan lainnya," ujar dia seperti dikutip dalam situs setgab.go.id di Jakarta, Rabu (7/8).
Selain itu, lanjut dia, tradisi mudik akan menciptakan redistribusi ekonomi dari kota besar, khususnya Jakarta ke daerah-daerah yang bisa menstimulasi aktivitas produktif masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah. Khususnya pada sektor UMKM dan industri rumahan lainnya dengan belanja yang dilakukan para pemudik di daerahnya masing-masing. Kondisi ini bila dimanfaatkan secara optimal dapat pula meningkatkan pertumbuhan ekonomi kemandirian daerah.
"Kedua, tradisi mudik meningkatkan perbaikan infrastruktur dasar, mulai dari pembangunan jalan darat, rel kereta api, jembatan, bandar udara, hingga pelabuhan laut. Hal ini tentu positif untuk sektor infrastruktur itu sendiri maupun sisi ketepatan penyerapan anggaran, peluang bisnis di bidang infrastruktur semakin terbuka, pengusaha lokal akan berkembang dengan pelibatan dalam berbagai pekerjaan infrastruktur, disamping menyerap tambahan tenaga kerja juga akan terjadi transfer pengetahuan praktis," jelas dia.
Lalu untuk peluang ketiga, aktivitas mudik Lebaran juga menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yakni melalui peningkatan konsumsi, sehingga nilai konsumsi agregat yang dihasilkan akan sangat besar, mencapai ratusan triliun rupiah. Mudik Lebaran bisa dijadikan akselerator dalam tetap menjaga pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang ditargetkan dalam APBN Perubahan 2013.
"Terakhir, tumbuhnya investasi di pedesaan, investasi di desa dikawal agar dapat menggerakkan sektor riil ekonomi desa seperti peternakan, pertanian, usaha kecil, home industri, perdagangan baik melalui koperasi maupun oleh pelaku ekonomi desa secara perorangan. Berbagai peluang yang tumbuh dari ekonomi lebaran dapat dimanfaatkan dan diarahkan guna menggerakkan perekonomian di desa, dana yang banyak diperoleh masyarakat desa dari perantau, diarahkan agar dapat menjadi suntikan modal bagi usaha yang produktif," pungkas dia.
Sebelumya, meningkatnya arus mudik dan adanya jaminan pelayanan optimal transportasi mudik dinilai bakal membawa perekonomian daerah akan membaik. Selain itu, meningkatnya transaksi perdagangan di seluruh tanah air sejalan dengan bertambah besarnya peredaran uang.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah memperkirakan perputaran uang selama Ramadan dan Idul Fitri 2013 mencapai Rp 61 triliun. Perputaran uang tersebut utamanya di pusat-pusat mudik atau daerah yang menjadi tujuan mudik.
"Uang yang berputar selama Ramadan dan Idul Fitri 2013 diperkirakan berkisar Rp 61 trilliun. Uang sebanyak itu berputar dari satu tempat ke tempat lainnya, terutama dari kota-kota ke desa-desa atau ke daerah-daerah yang menjadi pusat-pusat arus mudik," ujar dia.