Tahun 2012 atau tahun Naga Air dipercaya oleh beberapa warga China dapat memberikan keberuntungan dan rezeki. Demikian pula yang terjadi pada kinerja industri pasar modal Indonesia menjelang penutupan tahun ini dinilai akan merasakan "happy ending" walaupun sempat dihinggapi beberapa sentimen negatif yang berasal dalam negeri maupun asing.
Pada tahun ini beberapa pelaku pasar dalam negeri menyatakan puas berkecimpung di pasar modal. Kinerja pasar modal Indonesia yang salah satunya tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus saja mencetak rekor sehingga membuat kabar yang menggembirakan oleh beberapa pelaku pasar.
Hal tersebut dapat dilihat pada IHSG per 12 Desember 2012 berada di level 4.337,53 dari 3.821,99 pada akhir 2011 atau naik sekitar 13,5 persen. Pada tanggal 26 November 2012, IHSG juga berhasil mencatatkan rekor indeks tertinggi sepanjang sejarah dengan ditutup pada 4.375,17. Namun, pada 4 Juni 2012 indeks BEI juga sempat anjlok atau terendah pada sepanjang tahun ini pada posisi 3,654 poin.
Direktur Utama BEI, Ito Warsito, menyatakan pada tahun sebelumnya kinerja industri pasar modal Indonesia hanya tumbuh sekitar 3,2 persen sedangkan sepanjang tahun ini IHSG dapat tumbuh hingga mencapai 13 persen. Dengan kenaikan yang cukup menggembirakan sehingga dapat berimbas pula pada pelaku pasar domestik maupun asing.
"Beberapa kalangan analisis memprediksi pertumbuhan indeks BEI pada 2012 dapat mencapai 15-20 persen dengan berbagai asumsi yang ada. Dengan angka pencapaian tersebut diharapkan indeks BEI dapat terus tumbuh mengalami penguatan hingga mencapai level yang diinginkan," ujarnya kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (18/12).
Lebih lanjut, dia menjelaskan, adanya penguatan pada kinerja pasar modal Indonesia juga terlihat pada nilai kapitalisasi pasar saham juga mengalami peningkatan sebesar 16,79 persen dari Rp 3.537 triliun menjadi Rp 4.131 triliun per 12 Desember 2012.
"Dengan melihat nilai kapitalisasi pasar saham yang cukup signifikan yakni dengan tumbuh lebih dari Rp 500 triliun dengan jumlah 23 emiten baru," ujarnya.
Dia menambahkan, pertumbuhan pasar modal Indonesia juga didukung dengan kinerja fundamental emiten dalam negeri yang mayoritas positif walaupun ada beberapa sektor emiten yang mengalami penurunan kinerja seperti emiten sektor perkebunan dan pertambangan.
"Untuk emiten sektor perkebunan dan pertambangan dalam negeri pada tahun ini memang kurang bagus pasalnya dipicu dari harga komoditas yang tertekan secara terus-menerus sehingga membuat laba emiten mengalami penurunan sehingga tidak sesuai dengan harapan yang ada," kata dia.
Pasar modal Indonesia pada tahun ini memang cukup positif seiring dengan saham-saham domestik yang juga mengalami peningkatan. Hal tersebut diungkapkan oleh Managing Director PT Valbury Asia Securities, Johanes Soetikno.
"Saat ini tren indeks BEI terus mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut dipicu dengan masih banyaknya dana dari minat asing yang masuk ke pasar saham Indonesia sehingga kondisi ini menjadi katalis indeks BEI mengalami peningkatan," ujarnya, Jakarta, Rabu (19/12).
Lanjutnya, bahwa secara teknikal pasar saham Indonesia sedang memasuki periode "bullish" walaupun berita negatif masih sering menghampiri, khususnya terkait dengan kelanjutan pemulihan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.
"Walaupun sentimen negatif masih mendominasi namun masih banyaknya atau tingginya minat pelaku pasar asing terhadap Indonesia masih menunjukkan kondisi pasar modal Indonesia yang positif," kata dia.
Berdasarkan data BEI, akumulasi beli bersih asing sepanjang 2012 hingga 13 Desember 2012 senilai Rp 14,86 triliun.
Direktur Perdagangan BEI, Samsul Hidayat, mengatakan selain terdapat dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia, adapun pihak yang menambah porsi kepemilikan investor lokal atas saham-saham yang diperdagangkan di bursa.
"Peningkatan investor dalam negeri dan penyebarannya sudah jadi agenda BEI. Jadi, jangan dikuasai oleh investor asing sepenuhnya. Selain itu, SDM juga sangat penting untuk dikembangkan," ujar Samsul.