Industri otomotif khususnya sepeda motor memasuki fase kelam pada 2012. Bukan karena produksi yang melambat, tapi justru dari sisi penjualan. Padahal, tahun 2011 penjualan motor sempat mencetak rekor penjualan tertinggi.
Aturan yang dikeluarkan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dituding sebagai biang kerok melorotnya kinerja penjualan sepeda motor. Aturan Bank Indonesia yang terbit pada pertengahan Maret 2012 lalu, yang mewajibkan kredit perbankan untuk pembelian sepeda motor minimal 25 persen dari harga ternyata berdampak cukup signifikan menghambat penjualan sepeda motor.
Ditambah lagi keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.43/PMK.010/2012 yang mewajibkan minimal uang muka 20 persen untuk kredit pembelian sepeda motor melalui leasing yang semakin penjualan motor terpuruk.
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), volume penjualan seluruh merek dan jenis sepeda motor di tanah air pada periode Januari-November 2012 hanya mencapai 6.579.291 unit atau merosot 12,23 persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Pada periode Januari-November 2011, total penjualan mampu mencapai 7.552.005 unit.
Lalu bagaimana dengan tahun depan? Kinerja penjualan sepeda motor dapat dibilang masih 'gelap'. "Pasti pasar akan terkoreksi," ungkap Ketua bidang Komersil Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala kepada merdeka.com, Sabtu (22/12).
Aturan batas minimum uang muka masih diyakini menjadi faktor penghambat paling dominan. Terlebih, aturan uang muka kredit motor untuk perbankan syariah resmi diberlakukan di awal tahun 2013.
"Di awal tahun saja kita sudah dapat hadiah. Yang kami perkirakan, pasar akan flat di tahun depan," jelasnya.
Menurutnya, tidak akan ada pertumbuhan berarti tahun depan.Penjualan sepeda motor diperkirakan bakal sama seperti tahun ini. Bahkan masih terbuka kemungkinan lebih buruk dari tahun ini. "Kalau terkoreksi lagi bisa 15 persen sampai 20 persen penurunan dibanding tahun sebelumnya (2012)," katanya.
Dengan perkiraan tersebut, rasanya sulit penjualan sepeda motor bakal mencetak rekor pada tahun depan. Bahkan, pihaknya mengaku belum memiliki strategi untuk menggenjot kinerja penjualan sepeda motor. Terakhir, rekor penjualan sepeda motor terjadi pada 2011.
"Penjualan sampai 8 juta unit. Tertinggi sepanjang sejarah. Kalau tahun depan rasanya sulit untuk cetak rekor karena banyak aturan yang tidak kondusif," tegasnya.
Di tengah kekhawatiran pelaku industri sepeda motor nasional akan masa depan penjualan sepeda motor tahun 2013, pengamat ekonomi justru lebih optimis akan kinerja penjualan sepeda.
Ekonom senior UGM Tony Prasetiantono menilai sektor otomotif tidak perlu khawatir terperosoknya penjualan sepeda motor. Menurutnya, konsumen menengah ke bawah sesungguhnya hanya sedang mengumpulkan modal untuk membayar uang muka.
Kinerja penjualan mobil yang mencetak rekor tahun 2012 sebagai salah satu indikator aturan DP hanya mempengaruhi kelompok masyarakat berdaya beli rendah.
"Saya kira penjualan hanya akan sedikit surut 2 bulan sampai 3 bulan, akan cepat pemulihannya di sektor otomotif," ujarnya saat ditemui usai seminar Investment Focus Indonesia di Gedung Bank Indonesia, akhir tahun lalu.
Tony mempercayai itu karena tren konsumsi domestik masih akan tinggi tahun depan. Sektor utama seperti otomotif dan perumahan akan tetap terkerek. Pengusaha diminta untuk bersabar jika ada imbas negatif pada penjualan kuartal awal 2013. Aturan BI soal DP sebetulnya bertujuan untuk menghindarkan kredit macet karena debitur yang hobi menunggak.
"Kalau meminjamkan dana ke debitur rawan nunggak, ya gimana, itu salah satu manajemen risiko. Aturan BI kan semangatnya agar tidak terjadi goncangan," paparnya.