Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan kebijakan ekspor gas Indonesia harus dihentikan. Pasalnya, Saat ini sejumlah industri masih mengeluhkan adanya kekurangan gas.
Menurut Sofjan, ekspor gas menjadi penyebab industri kekurangan pasokan gasnya. Padahal, gas tersebut bukan hanya dipakai untuk sumber energi tetapi untuk meningkatkan produksi industri saat ini.
"Saya pikir 100 persen kita hentikan ekspor, kita gunakan untuk dalam negeri. Di mana kalau kita punya kelebihan baru diekspor. Bukan ekspor dulu baru dalam negeri," ujar Sofjan yang ditemui usai menghadiri Seminar Penguatan Industri Gas untuk Mewujudkan Ketahanan Energi nasional di Hotel Borobudur. Jakarta, Rabu (31/10).
Menurut Sofjan, pemerintah harus merenegosiasi kontrak-kontrak gas yang lama untuk menghentikan ekspor gas. Dengan begitu produk industri dalam negeri dapat bersaing dengan barang-barang impor. Dengan adanya gas, ongkos produksi akan menjadi lebih rendah.
"Tentu kita harus punya keberanian untuk renegosiasi dengan mereka, kalau kita begini terus industri kita tidak akan maju, malah makin hari makin tidak kompetitif dengan harga-harga yang kita lawan dengan brand impor ini," tegasnya.
Apindo mendesak agar pemerintah jangan terlalu banyak menjanjikan alokasi gas untuk industri dan kebutuhan domestik harus diutamakan. "Jadi lakukan saja masalah gas ini. Jangan cuma dijanjikan tapi enggak dilaksanakan. Saya pikir harus ada keputusan tegas kebutuhan gas untuk domestik itu nomor satu," jelasnya.
Sofjan menambahkan banyak industri yang mandek produksi karena pasokan gas dari pemerintah sangat minim salah satunya industri keramik dan kaca. "Industri kita banyak pakai gas karena memang listrik lebih mahal, mereka butuh gas itu karena secara modern dan efisiensi itu gas lebih murah dan efisiensi dari listrik," pungkasnya.