Wacana penyeragaman waktu di Indonesia merupakan salah satu topik menarik yang terus berkembang. Rencana kebijakan menyatukan zona waktu semakin ramai manakala pemerintah menetapkan akan menjalankan kebijakan tersebut pada 28 Oktober tahun ini.
Inti dari rencana ini adalah menghilangkan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) dan Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT). Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) yang berpatokan GMT+8 akan digunakan di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Rencana penyatuan zona waktu tidak lagi diatur dengan dasar pertimbangan astronomis, namun lebih ke arah ekonomis. Alasan pemerintah menyeragamkan waktu di seluruh wilayah Indonesia adalah efisiensi, efektivitas dan optimalisasi kinerja perdagangan dan ekonomi.
Terlebih, muncul pertimbangan bahwa penyeragaman zona waktu menjadi GMT+8 sama dengan yang digunakan Hongkong atau Singapura. Dengan demikian, aktivitas perdagangan pasar modal dan aktivitas ekonomi lainnya bisa dilakukan bersamaan dengan aktivitas di negara lain.
Wacana penyatuan zona waktu semakin menarik lantaran implikasinya yang terlalu besar bagi masyarakat. Khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah barat Indonesia dan wilayah timur Indonesia. Masyarakat yang tinggal di wilayah tengah Indonesia cenderung tidak mengalami implikasi berarti. Implikasi serius karena menyangkut waktu matahari dan aktivitas masyarakat.
Lalu, apa yang terjadi jika wacana penyatuan zona waktu benar-benar direalisasikan?
1. Berubahnya pola dan aktivitas masyarakat.
Masyarakat yang tinggal di wilayah barat Indonesia, pulau Jawa dan Sumatera, harus memulai aktivitas lebih cepat dari biasanya. Tepatnya, 1 jam lebih cepat dari biasanya. Karena, selama ini WIB lebih lambat 1 jam dibandingkan WITA. Jika selama ini masuk kerja pukul 07.00 WIB, maka nantinya jam kerja efektif pukul 06.00.
Pelajar yang biasanya mulai proses belajar mengajar pukul 07.00 WIB, nantinya juga harus belajar lebih pagi dari biasanya. Gedung-gedung dan perkatoran harus buka lebih pagi dari biasanya. Aktivitas kerja bisa saja terganggu. Secara psikologis mungkin tidak nyaman, sebab hari masih gelap untuk memulai aktivitas.
Sedangkan untuk masyarakat yang berdomisili di wilayah timur Indonesia, Maluku-Ambon-Papua, juga mengalami perubahan kebiasaan. Waktu aktivitas masyarakat cenderung lebih lambat dari biasanya. Selama ini, masyarakat di wilayah timur paling cepat beraktivitas dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah tengah maupun barat Indonesia.
Perbedaan waktu WIT yang 2 jam lebih cepat dibanding WIB, memberi gambaran bahwa di saat warga Jakarta masih lelap tertidur, warga di Papua sudah mulai aktivitasnya. Jika masyarakat Papua harus menyesuaikan dengan waktu di Indonesia tengah, secara psikologis pun sedikit terganggu. Alasannya, sudah terlalu siang untuk mulai bekerja. Matahari sudah terlalu tinggi. Di sisi lain, waktu bekerja terasa lebih lama dari biasanya.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara. Dari dua gambaran tersebut, Jusuf Kalla melihat bahwa setidaknya ada 200 juta jiwa masyarakat Indonesia yang pola dan aktivitas hidupnya berubah. 193 juta jiwa masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah barat Indonesia dan 7 juta jiwa masyarakat yang tinggal di wilayah timur Indonesia. "Ini bisa menimbulkan kekacauan, tidak ada alasan objektifnya untuk menyatukan zona waktu di Indonesia," kata Jusuf Kalla.
2. Fenomena alam yang tak singkron dengan perputaran waktu
Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Itu merupakan fenomena alam yang terjadi tanpa diatur oleh waktu. Pergerakan bumi mengelilingi matahari, membuat waktu antar belahan dunia berbeda. Jangankan di belahan dunia lain, fenomena alam ini juga membuat waktu yang diterapkan di Indonesia berbeda.
Perbedaan waktu itu dihitung dengan rumusan astronomis. Sebab, matahari lebih dahulu menyinari wilayah timur Indonesia, di bandingkan wilayah barat. Kondisi ini yang mengundang keprihatinan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Jika zona waktu disatukan, di saat hari masih gelap, matahari belum sepenuhnya nampak di permukaan, masyarakat di wilayah barat Indonesia harus mulai beraktivitas. "Anak-anak harus lebih pagi ke sekolah. Terus di daerah-daerah, pergi kerja dan sekolah pakai obor karena masih gelap," ungkap Jusuf Kalla.
Di sisi lain, untuk masyarakat di wilayah timur Indonesia, waktu berjalan lebih lamban dari pergerakan matahari. Jika biasanya, pada pukul 12.00 WIT matahari sudah tepat di atas kepala, nantinya tidak lagi demikian. Begitu pula waktu kerja. Di saat hari sudah cukup gelap, masyarakat Papua baru selesai bekerja.
Apakah pemerintah masih akan mempertimbangkan rencana penyatuan zona waktu? Menarik untuk ditunggu kelanjutannya.