Pergerakan nilai tukar rupiah akan terus dibayangi oleh sentimen global dan meningkatnya kebutuhan impor seiring kuatnya aktivitas ekonomi domestik. Rupiah melemah point to point sebesar 0,33 persen dan month to month ke level Rp 9.020 per dolar Amerika Serikat. “Faktor penyebab tekanan antara lain dari penyesuaian portofolio investor asing,” ujar Juru Bicara Bank Indonesia Difi Johansyah, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta (8/3). Ia mengatakan Bank Indonesia terus memonitor dan menempuh langkah stabilitasi nilai tukar rupiah baik melalui pasar valuta asing maupun pasar sekunder surat berharga negara untuk menjaga keseimbangan pasar domestik.
"Inflasi akan kembali menurun setelah berakhirnya dampak temporer dari kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan harga bahan bakar minyak,"BI memperkirakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari yang menyentuh 3,56 persen year on year (yoy) lebih rendah dibanding bulan Januari 2012 sebesar 3,65 persen. Inflasi inti masih tetap terkendali, karena nilai tukar rupiah yang terkendali serta ekspektasi inflasi yang juga masih terjaga.