Presiden Jokowi: Kalau Rupiah Menguat Terlalu Cepat, Kita Harus Hati-Hati

Kamis, 16 Januari 2020 16:31 Reporter : Merdeka
Presiden Jokowi: Kalau Rupiah Menguat Terlalu Cepat, Kita Harus Hati-Hati Jokowi di acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan. ©2020 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi nilai tukar Rupiah yang terus menguat dalam beberapa waktu terakhir. Namun, dia menambahkan, ada beberapa pihak yang tak suka dengan penguatan tersebut. Salah satunya eksportir, yang disebutnya merasa terancam lantaran bakal berdampak terhadap daya saing.

"Kalau menguatnya terlalu cepat kita harus hati-hati. Ada yang senang ada yang tidak senang. Eksportir pasti tidak senang karena Rupiah menguat, sehingga daya saing kita akan menurun," jelas Presiden Jokowi saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Jakarta, Kamis (16/1).

Di tempat yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengungkapkan, penguatan yang terjadi pada Rupiah saat ini lantaran mata uang negara telah sesuai dengan fundamental.

"Bukan hanya Rupiah sendirian yang menguat, tapi karena ada faktor fundamentalnya. Dengan nilai tukar sekitar Rp 13.600 masih sesuai dengan fundamental kita," kata Dody.

Berbanding terbalik dengan Presiden Jokowi, Dody menganggap tak ada pihak yang dirugikan dalam penguatan Rupiah ini. Tak terkecuali eksportir, yang harga komoditasnya saat ini mengacu pada harga global.

"Kalau melihat harga komoditas global, komoditas kita memang kecenderungannya masih turun karena world trade membuat harga turun," terang dia.

Sebagai informasi, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (16/1) berhasil rebound dari pelemahan satu hari sebelumnya. Rupiah hari ini dibuka terapresiasi 17 poin di level Rp 13.678 per USD. Adapun perdagangan Rupiah pada Rabu (15/1) kemarin ditutup pada level Rp 13.695 per USD, melemah 0,11 persen atau 15 poin.

1 dari 1 halaman

Rupiah Bakal Masih Berlanjut Menguat

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, meyakini Rupiah akan terus menguat setelah undang-undang Omnibus law cipta karya dan perpajakan disetujui. Belum lagi jika investasi badan usaha pengelola investasi negara (sovereign wealth fund) berjalan.

"Nanti selesai omnibus law, akan jauh lebih kuat (Rupiah). Nanti lihat lagi selesai sovereign wealth fund pasti tambah kuat lagi. Nanti lihat masuk middle east ini. Abu dhabi kan terkenal kuat sekali," ujarnya.

Selain itu kondisi ekonomi Indonesia yang membaik juga menjadi faktor penguatan Rupiah. Seperti kondisi makro yang cukup positif, angka Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, hingga angka inflasi.

"Kita juga memberikan kepada market mekanisme. Ini market saja yang membuat begitu," imbuhnya.

Namun, dia berharap penguatan Rupiah tidak terlalu cepat dan tetap sesuai fundamental. Sebab bila terlalu cepat akan mengganggu iklim ekspor. "Jangan sampai nanti terlalu cepat menguatnya. (Kalau) cepat menguat kan ekspor kita jadi masalah," kata Menko Luhut.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com

[bim]

Baca juga:
Luhut Harap Rupiah Tak Terlalu Cepat Menguat
Rupiah Terus Menguat Sentuh Rp13.675 per USD, Ini Kata BI
Rupiah Menguat Dipicu Meredanya Perang Amerika Serikat dan Iran
Ketegangan Konflik Iran-AS Menurun, Rupiah Menguat ke Level Rp13.851 per USD
Rupiah Menguat ke Level Rp13.972 per USD
Pemakzulan Donald Trump Buat Nilai Tukar Rupiah Menguat
Nilai Tukar Rupiah Tak Beranjak dari Level Rp14.000-an per USD

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini