Pengamat: Rencana Super Holding BUMN Jokowi Sudah Ada Sejak Era Soeharto

Sabtu, 20 April 2019 10:00 Reporter : Dwi Aditya Putra
Pengamat: Rencana Super Holding BUMN Jokowi Sudah Ada Sejak Era Soeharto Jokowi Ingin Bentuk Super Holding BUMN. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, menyatakan gagasan Calon Presiden Nomor Urut 01, Joko Widodo terkait pembangunan super holding BUMN bukan lah sesuatu yang baru. Sebab, wacana tersebut sebelumnya pernah dirancang di akhir masa Pemerintahan Presiden Soeharto.

Toto menjelaskan konsep yang dirancang pada masa Pemerintah Soeharto pun serupa dengan apa yang diterapkan di Malaysia melalui perusahaan pelat merahnya. Hanya saja, di Indonesia sendiri gagasan tersebut sampai saat ini masih belum juga terealisasikan.

"Bedanya kalau di Indonesia kemudian tidak fokus diimplementasikan karena pergantian rezim yang cepat, di Malaysia konsep ini diimplementasikan dengan pembentukan super holding Khazanah. Kenapa bisa? Karena pemerintahan di bawah Mahatir saat itu sangat stabil," katanya saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (20/4).

Toto mengatakan baru di era Jokowi konsep ini dijadikan prioritas dan diimplementasikan lebih cepat. "Kenapa Jokowi pro holding? Menurut saya karena visi dia ke depan untuk meningkatkan daya saing BUMN itu sendiri," imbuhnya.

Mengutip laporan kinerja BUMN, pada 2017, Kementerian BUMN telah menyusun peta jalan (road map) BUMN. Salah satu peta jalan berisi rencana pembentukan holding BUMN sektor perbankan dan jasa keuangan, sektor pertambangan, sektor minyak dan gas (migas), sektor perumahan, sektor konstruksi, dan sektor pangan.

Tahun kemarin, pemerintah telah membentuk holding migas. Dalam holding BUMN migas, PT Pertamina (Persero) ditunjuk sebagai induk. Anggota holding BUMN migas terdiri dari PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Pada tahun yang sama, pemerintah juga telah membentuk holding BUMN tambang. Dalam pembentukan holding ini, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) didapuk sebagai induk, sementara anggota perusahaan terdiri dari, PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Timah Tbk.

"Dengan pembentukan sektoral holding BUMN yang dikebut dalam 2 tahun terakhir, maka harapannya daya saing BUMN meningkat. Kata kunci holding adalah value creation. Artinya nilai Holding akan lebih besar dibandingkan masing-masing BUMN berstatus stand alone," jelas Toto.

Kendati demikian, dia memandang beberapa holding yang sudah dilakukan Pemerintahan Jokowi belum sepenuhnya bisa disamakan seperti yang digagas Pemerintah Malaysia dan Singapura.

"Tidak ada yang sepenuhnya sebagai investment holding seperti Temasek dan Khazanah. Apabila implementasi pembentukan sectoral holding di Indonesia ini sudah dijalankan lebih baik , maka ke depan transisi menuju super holding yang mengelola portfolio seperti Temasek mungkin bisa dijalankan," pungkasnya.

Seperti diketahui, Calon presiden (capres) nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi), menyatakan akan membangun super holding sehingga menciptakan BUMN kelas dunia. Super holding merupakan induk dari holding-holding yang tengah dibentuk saat ini.

"Saya kira ke depan kita akan membangun holding BUMN baik holding yang berkaitan dengan konstruksi, karya berkaitan dengan migas. Holding berkaitan dengan pertanian, perkebunan, berkaitan dengan perdagangan lainnya. Akan ada holding di atasnya ada super holding," ujar dia saat debat kelima pilpres 2019 di Hotel Sultan Jakarta.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini