Pemikiran bos Pelindo II soal konsep pembangunan pelabuhan dikritik

Jumat, 10 Februari 2017 15:46 Reporter : Syifa Hanifah
Pemikiran bos Pelindo II soal konsep pembangunan pelabuhan dikritik Pelabuhan. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Presiden Indonesia Port Watch (IPW), Syaiful Hasan mengkritik pemahaman Direktur Utama Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, Elvyn G Masassya soal konsep pengembangan BUMN pelabuhan tersebut. Elvyn sebelumnya menyampaikan bahwa Pelindo II akan membangun beberapa pelabuhan baru guna meningkatkan pendapatan perseroan.

Elvyn berpendapat, sejumlah pencapaian di tahun 2016 memunculkan adanya optimisme kenaikan pendapatan di tahun 2017 terhadap Pelindo II.

"Menurut saya itu cara berpikir yang keliru. Saya mau kasih data beberapa proyek Pelindo II yang mandek. Pertama, perpanjangan JICT dan kedua global bond. Apa ini jalan? Kan enggak," kata Syaiful di Jakarta, Jumat (10/2).

Tak hanya itu, kata Syaiful, sejumlah proyek pengembangan Pelindo II juga tidak realistis. Contohnya pembangunan kanal Cikarang-Bekasi-Laut dan Pelabuhan Sorong. Syaiful menegaskan, pembangunan kanal tersebut belum dikaji secara tuntas. Apalagi ingin membangun pelabuhan Sorong dan Kijing, sementara banyak yang harus dibenahi di 12 cabang Pelindo II.

"Bangun pelabuhan Kalibaru tahap 1 saja delay 2 tahun. Apalagi konsepnya sudah melenceng. Bagaimana mau bersaing dengan Singapura? Investor dan operatornya saja dari Port of Singapore Authority (PSA)," tutur dia.

Dana global bond sampai saat ini juga tidak digunakan sementara pembayaran bunga berjalan. Sedang perpanjangan JICT, ucap Syaiful, sudah ditemukan indikasi kerugian negara puluhan milyar dan ketidakpatuhan hukum oleh badan Pemeriksa Keuangan (BPK). "Dari analisa data yang ada, kami menduga proyeksi kenaikan pendapatan bersumber dari pencatatan keuntungan JICT, yang dianggap sudah clear. Nyatanya ini kan bermasalah," kata dia.

Selain itu, hal yang perlu dikritisi dalam keterangan Elvyn, di antaranya mengenai waktu tunggu bongkar muat atau dwelling time. "Pak Elvyn sebaiknya fokus menata dwelling time dan kualitas pelayanan pelabuhan. Dwelling time di JICT dan TPK Koja masih di atas 3,5 hari. Itu kelas pelabuhan standar internasional dan jadi parameter. Bagaimana bisa klaim sudah 2,7 hari? Kasihan Presiden kalau begini," ujar dia. [idr]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini