Pemerintah Siapkan 4 Langkah Ini Agar Pasar Dalam Negeri Tidak Mati karena Dibanjiri Produk-Produk China
Kementerian UMKM telah merumuskan empat strategi untuk mengatasi peningkatan impor dari China akibat perang dagang.
Ketika pasar lokal dibanjiri produk asing yang lebih murah dan mudah diakses, pelaku UMKM di Indonesia berhadapan dengan tantangan serius. Salah satunya datang dari potensi lonjakan produk impor asal China akibat ketegangan perdagangan global yang makin memanas. Namun, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenKop UKM) tak tinggal diam.
Di tengah kekhawatiran yang makin terasa di kalangan pelaku usaha kecil, pemerintah bergerak cepat. Lewat empat langkah strategis, Kementerian UMKM berupaya melindungi produk lokal sekaligus memperkuat posisi UMKM agar tak hanya bertahan, tapi juga bersaing di negeri sendiri hingga pasar global.
“Kami menerima banyak laporan dari pelaku usaha yang cemas dengan potensi banjir produk dari luar. Tapi kami tak ingin UMKM hanya bertahan, kami ingin mereka tumbuh,” ujar Riza Adha Damanik, Deputi Bidang Usaha Mikro KemenKop UKM, dalam wawancara yang dikutip Antara, Sabtu (21/6).
Langkah 1: Perkuat Aturan dan Kolaborasi
Langkah pertama dimulai dari fondasi paling dasar: regulasi. Kementerian UMKM mempererat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk menyusun kebijakan perdagangan yang pro-UMKM. Tujuannya jelas agar produk lokal mendapat ruang yang adil dan tidak tersingkir dari pasar sendiri.
Langkah 2: Sertifikasi Bukan Beban, Tapi Senjata
Di masa lalu, sertifikasi seperti halal atau izin edar BPOM kerap dianggap sebagai beban administratif. Kini, sertifikasi justru jadi senjata utama untuk menembus pasar baik domestik maupun internasional.
“Sekarang konsumen supermarket pun selektif. Produk tanpa label halal seringkali ditinggalkan. Jadi ini bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan,” ungkap Riza.
Tak sedikit UMKM kesulitan mendapatkan akses ke sertifikasi. Menjawab itu, pemerintah menggandeng berbagai lembaga untuk mempermudah proses legalisasi dan perizinan usaha.
Langkah 3: Produksi Lokal Diperkuat, Kredit Disiapkan
Strategi ketiga menyasar jantung UMKM: sektor produksi. Pemerintah menargetkan 60% dari total plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp300 triliun diarahkan ke sektor produksi. Tujuannya agar produk UMKM tak hanya kreatif, tapi juga berkualitas dan siap bersaing di e-commerce maupun pasar offline.
“Kita ingin produk UMKM punya kualitas tinggi dan harga kompetitif. Jangan sampai hanya jadi penonton di pasar sendiri,” tegas Riza.
Langkah 4: Naik Kelas Lewat Digitalisasi
Langkah terakhir berfokus pada dunia digital. Kementerian UMKM menggandeng berbagai platform e-commerce untuk membuat halaman khusus produk UMKM. Harapannya, produk lokal tampil di halaman utama aplikasi belanja online di tempat yang mudah ditemukan, mudah dibeli, dan tentunya membanggakan.
“Kami berharap masyarakat juga ikut bangga dan mencintai produk lokal. UMKM Indonesia bukan produk kelas dua, tapi garda terdepan ekonomi bangsa,” tambahnya.
Silakan akses sertifikasi
Riza menyatakan bahwa hal yang sama juga berlaku bagi UMKM yang ingin memasuki pasar global, di mana sertifikasi dan standarisasi produk merupakan syarat yang tidak bisa diabaikan.
"Banyak catatan yang disampaikan bahwa UMKM kesulitan mendapatkan akses sertifikasi ini. Kemudahan-kemudahan ini yang kita ingin jawab. Dan Alhamdulillah, kami telah melakukan konsolidasi dengan sejumlah kementerian/lembaga untuk memberikan pelayanan-pelayanan kemudahan bagi UMKM kita untuk mendapatkan akses sertifikasi dan legalisasi usaha," ujarnya.
Dalam upaya lebih lanjut, langkah ketiga adalah memperkuat ekosistem UMKM, terutama di sektor produksi, yang dilakukan dengan cara memperluas akses pembiayaan. Pemerintah menargetkan agar 60 persen dari total plafon kredit usaha rakyat (KUR) yang mencapai Rp300 triliun dapat terserap ke sektor produksi.
Pengembangan UMKM di bidang produksi
Riza menjelaskan bahwa penguatan UMKM di sektor produksi memiliki tujuan untuk memastikan produk UMKM yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar, termasuk dalam platform e-commerce.
"Tentu kita ingin membuat produk kita bagus, tidak kalah dengan produk-produk dari negara lain. Juga kita ingin produk kita itu lebih kompetitif, harganya kompetitif dibanding dengan produk-produk dari negara lain, dan seterusnya. Ini juga menjadi kepentingan kita," ungkapnya.
Sebagai langkah terakhir, Kementerian UMKM mendorong penguatan di sektor digital dengan bekerja sama dengan berbagai platform e-commerce untuk membuat laman khusus yang menampilkan produk UMKM lokal. Laman ini diharapkan dapat muncul di halaman utama aplikasi agar visibilitas dan daya saing produk dalam negeri semakin meningkat.
"Dengan empat instrumen ini tentu kita juga mengharapkan dukungan dari konsumen untuk sama-sama mengajak masyarakat agar semakin suka dan semakin gemar untuk membeli produk buatan dari UMKM-UMKM Indonesia," tambah Riza.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4995048/original/088256300_1730975735-Infografis_SQ_Efek_Donald_Trump_Menang_Pilpres_AS_ke_Perekonomian_Global.jpg)