OJK: Sektor Keuangan Kedua Terbanyak Alami Serangan Siber Sepanjang 2021

Selasa, 17 Mei 2022 11:02 Reporter : Merdeka
OJK: Sektor Keuangan Kedua Terbanyak Alami Serangan Siber Sepanjang 2021 Hacker. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan sektor keuangan menjadi sektor yang menempati peringkat kedua terbanyak alami serangan siber di 2021, yakni 22,4 persen. Peringkat pertama adalah sektor manufaktur sebanyak 23,20 persen.

Deputi Direktur Basel & Perbankan Internasional, Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Tony mengatakan, sebanyak 70 persen serangan ditujukan kepada bank, dan 16 persen kepada perusahaan asuransi dan 14 persen sektor keuangan lainnya.

Dari paparannya, serangan siber yang sering dialami di perbankan biasanya menyangkut 5 hal, di antaranya unencrypted data, malware, unsecured third party services, manipulated data, dan website atau application spoofing.

"Memang kadangkala (serangan siber) iseng sifatnya ada juga tujuannya untuk mengambil untung, bahkan meminta tebusan itu terjadi di semua sektor. Dan sektor keuangan menjadi sektor yang menarik karena di dalamnya ada uang. Mereka sangat berusaha masuk ke sektor keuangan," kata Tony dalam seminar Mengukur Percepatan Transformasi Digital Perbankan: Bagaimana Strategi Mitigasi dan Kesiapan Bank Menghadapi Cybercrime?, Selasa (17/5).

Menurutnya, digitalisasi datang dengan berbagai tantangan. Salah satu yang utama adalah keamanan siber.

"Ada yang memprediksi serangan siber paling besar terjadi di sektor keuangan dan ini seringkali terjadi. Memang serangan siber ini banyak macam jenisnya, serangan siber juga terus mengalami evolusi terus menerus," katanya.

2 dari 2 halaman

Ingatkan Bank Persiapkan Langkah Mitigasi

persiapkan langkah mitigasi

Banyak serangan siber baru dan terus terjadi di perbankan, baik secara global maupun domestik dan itu mengancam perbankan nasional. Sehingga memang serangan siber ini perlu untuk segera diatasi dan dimitigasi dengan baik oleh bank.

Dia menyarankan agar bank tidak mengalami gangguan kedepannya atau kehilangan keuangan maupun kehilangan reputasi akibat serangan siber tersebut. Sektor perbankan harus siap untuk melakukan mitigasi terhadap risiko keamanan siber.

Sebab, jika tidak begitu semakin marak dan tentunya serangan siber ini dilakukan bukan hanya sendiri tapi oleh beberapa kelompok.

"Saya bilang bahwa probabilitas serangan siber ke depan diprediksi di sektor keuangan itu bisa mencapai 86,7 persen dan memang itu tuh ada kemungkinan itu akan terjadi jika bank-banknya tidak siap untuk melakukan mitigasi terhadap risiko keamanan siber," ungkapnya.

Terdapat dua faktor utama dilakukannya serangan siber, yaitu pertama, pelaku memang sengaja mencari keuntungan. Kedua, pelaku hanya membuktikan bahwa dirinya mampu membobol keamanan suatu perusahaan, khususnya sektor keuangan.

"Buat serangan siber sendiri timbul kebanggaan jika berhasil serang bank yang keamananya tinggi. Kalau baca literatur ada 2 faktor, pertama untuk cari keuntungan dan pride," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Cara Kerja VPN dan 5 Alasan Anda Membutuhkannya
Indonesia Hadapi 11 Juta Serangan Siber pada Kuartal Pertama 2022
Melihat Kesiapan Indonesia Terapkan E-Voting
IDADX: 32.296 Laporan Phishing Serang Domain .ID, Mayoritas Lembaga Keuangan
OJK: 21 Persen Serangan Siber Menyasar Perbankan
Rapat dengan Komisi I DPR, Kepala BSSN Jelaskan Pembangunan Keamanan Siber di IKN
BSSN Siapkan Strategi Keamanan Siber di IKN, Buka Pelatihan Simulator Smart City

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini