Menteri Sri Mulyani akan revisi asumsi nilai tukar di RAPBN 2019

Selasa, 4 September 2018 16:38 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Menteri Sri Mulyani akan revisi asumsi nilai tukar di RAPBN 2019 Rapat kerja bahas RUU APBN 2019. ©2018 Liputan6.com/JohanTallo

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengakui di tengah kondisi saat ini menentukan asumsi Rupiah untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 tidaklah mudah. Sebagai informasi, pada nota keuangan 16 Agustus lalu telah ditetapkan asumsi Rupiah adalah 14.400.

"Terus terang dalam kondisi hari ini menetapkan nilai tukar Rupiah tahun depan tidak mudah," kata Menkeu Sri Mulyani di Gedung DPR RI, Selasa (4/9).

Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan, angka tersebut juga sudah dinaikkan dari asumsi awal yang hanya Rp 14.000 USD. "Kemarin disepakati range nilai tukar 14.000 dan kami ubah di nota keuangan (menjadi) 14.400," ujarnya.

Kendati demikian, dia menegaskan asumsi Rupiah di level 14.400 perlu dibahas kembali. "Kami memperkirakan 14.400 dengan kondisi prediksi untuk tahun depan, ini perlu kita bahas bersama kembali."

Dalam kesempatan serupa, salah satu anggota fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Hakam Naja juga menyoroti hal serupa. "Asumsi nilai tukar Rupiah di RAPBN 2019 sebesar 14.400. Siang ini (sudah) 14.980," ujarnya.

Dia mengusulkan asumsi nilai tukar Rupiah dikoreksi dari Rp 14.400 menjadi Rp 14.600. "Kami mengusulkan yang realiatis 14.600 untuk nilai tukar Rupiah di RAPBN 2019."

Sebelumnya, pemerintah menyadari, tahun depan masih banyak faktor yang menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. "Baik dari faktor dinamika ekonomi negara maju, termasuk normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat dan Eropa, serta perkembangan ekonomi Tiongkok," ujar Presiden Jokowi membacakan nota keuangan dan RAPBN 2019 di Gedung DPR, Kamis (16/8).

Dalam nota keuangan dan RAPBN 2019, pemerintah memprediksi nilai tukar rupiah masih berada di level Rp 14.000 per USD. "Nilai tukar Rupiah tahun 2019 diperkirakan berada di kisaran Rp 14.400 per USD," jelasnya.

Menurut Presiden, tantangan pelemahan mata uang tidak hanya dialami Rupiah, tetapi juga oleh banyak mata uang negara lain. Dilihat secara year to date (ytd) Rupiah terdepresiasi atau melemah 7,04 persen atau lebih rendah dari India, Brazil, Afrika Selatan, dan Rusia. Sedangkan untuk aliran modal asing telah kembali masuk ke pasar keuangan domestik pada semua jenis aset. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini