Mengintip untung rugi perusahaan keluarga
Merdeka.com - Salah satu cara untuk memulai berbisnis adalah dengan jaringan keluarga. Hal tersebut menjadi hal yang lumrah jika menginginkan modal dan tenaga kerja yang terpercaya dan lebih fleksibel.
Namun, banyak yang mengira bahwa perusahaan keluarga berisiko karena lebih tertutup dan ketat. Nyatanya, banyak perusahaan keluarga yang sukses tumbuh menjadi besar.
Contohnya saja Walmart, perusahaan supermarket terbesar di Amerika Serikat. Meskipun merupakan perusahaan keluarga, perusahaan tersebut mempekerjakan 2,2 juta orang di seluruh dunia hingga tahun ini. Walmart juga berhasil mencatatkan pendapatan hingga USD 485,65 miliar atau sekitar Rp 6.815,7 triliun yang setara lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Credit Suisse baru-baru ini telah melakukan riset terhadap perusahaan keluarga di seluruh dunia. Riset tersebut menyelidiki lebih dalam apakah perusahaan-perusahaan keluarga cenderung mempunyai kinerja yang lebih baik dibanding perusahaan nonkeluarga.
"Kami membandingkan siklus pertumbuhan dan keuntungan pada perusahaan milik keluarga seluruh dunia dengan MSCI ACWI serta perbedaan dalam strategi bisnis untuk memahami mengapa perusahaan milik keluarga lebih outperform," ujar Stefano Natella, Global Head of Equity Research Investment Banking Credit Suisse seperti yang dikutip dalam siaran persnya, Rabu (26/8).
MSCI ACWI (Morgan Stanley Capital International-All Country World Index) adalah sebuah indeks tentang kapitalisasi pasar yang ditujukan untuk mengukur kinerja pasar ekuitas di seluruh dunia.
Dengan menjadikan perusahaan-perusahaan dalam daftar CS Global Family 900 sebagai sample, lembaga tersebut mempunyai beberapa temuan yang menarik. Penelitian tersebut menunjukkan bukti bahwa perusahaan keluarga cenderung mempunyai kinerja yang lebih bagus dibanding rata-rata perusahaan nonkeluarga di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan keluarga tersebut mempunyai tingkat pertumbuhan investasi dan bisnis (CAGR) 4,5 persen lebih tinggi dibanding rata-rata MSCI-ACWI.
Selain itu, perusahaan keluarga juga mempunyai peran yang lebih besar bagi perekonomian dibanding perusahaan nonkeluarga untuk jangka panjang. Hal tersebut spesifik didapat melalui studi kasus Walmart, Alfa Laval dan Sino Biopharmaceuticals. Meskipun, di sisi lain, return of equity (ROE) perusahaan keluarga lebih rendah dibandingkan perusahaan nonkeluarga.
"Hal ini disebabkan perusahaan keluarga mempunyai strategi perusahaan yang lebih konservatif dan memprioritaskan kepemilikan keluarga dibanding imbal hasil keuangan," sebut penelitian tersebut.
Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa perusahaan keluarga juga lebih stabil dan tidak menunjukkan gejolak yang luar biasa. Namun, terdapat karakteristik yang berbeda pada daya tahan perusahaan keluarga terhadap transisi kepemilikan.
"Kami menemukan bahwa daya tahan dan transisi lebih mudah untuk sektor yang lebih mandiri dan nyata (seperti perdagangan barang). Namun, untuk perusahaan yang bergerak dalam sektor yang berkaitan dengan produk intelektual menunjukkan pelemahan yang lebih cepat," jelas penelitian tersebut.
Pelemahan kinerja perusahaan pada saat transisi tersebut menggambarkan bahwa tidak adanya transfer visi dan ketertarikan pada saat mendirikan perusahaan yang tidak dikomunikasikan dengan baik. (mdk/bim)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya