KKP Ajak Dunia Berpartisipasi dalam Ocean Impact Summit Bali 2026 untuk Ekonomi Biru Berkelanjutan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) gencar mempromosikan Ocean Impact Summit Bali 2026, sebuah forum global yang diharapkan menjadi wadah inovasi ekonomi biru dan keberlanjutan sumber daya laut.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
KKP Ajak Dunia Berpartisipasi dalam Ocean Impact Summit Bali 2026 untuk Ekonomi Biru Berkelanjutan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara aktif menggalang dukungan internasional untuk Ocean Impact Summit 2026 di Bali, diharapkan menjadi wadah inovasi ekonomi biru yang berkelanjutan. (AntaraNews)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggalang dukungan internasional untuk gelaran Ocean Impact Summit (OIS) 2026 di Bali. Acara penting ini dijadwalkan berlangsung pada tanggal 8 hingga 9 Juni 2026, mempertemukan berbagai pemangku kepentingan global. KKP berambisi menjadikan OIS 2026 sebagai platform utama untuk diskusi dan kolaborasi terkait isu kelautan.

Upaya promosi intensif telah dilakukan KKP melalui partisipasi aktif di dua forum internasional prestisius. Forum tersebut meliputi Bali Ocean Days dan pertemuan ke-30 Coastal States Alliance (CSA), menarik ratusan delegasi dari berbagai negara. Langkah strategis ini bertujuan memperkenalkan OIS 2026 kepada khalayak yang lebih luas.

Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Doni Ismanto Darwin, menegaskan pentingnya partisipasi global dalam acara ini. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar potensi hasil yang dapat dicapai dari pelaksanaan OIS 2026. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia untuk kepemimpinan di sektor kelautan dan perikanan.

Doni Ismanto Darwin menjelaskan bahwa promosi Ocean Impact Summit 2026 berfokus pada relevansi tema besar "Unlocking The Potential of the Blue Economy". Tema ini sangat berkaitan erat dengan isu-isu krusial yang dibahas dalam forum-forum internasional. KKP berupaya menyoroti potensi ekonomi biru sebagai solusi pembangunan berkelanjutan.

Dalam forum Bali Ocean Days, topik yang diangkat mencakup pembangunan wilayah pesisir, upaya konservasi terumbu karang, serta penanganan persoalan sampah laut yang mendesak. Sementara itu, pertemuan CSA membahas keberlanjutan populasi tuna, khususnya menjelang sidang Technical Committee on Allocation Criteria (TCAC) di Perth, Australia. Diskusi ini menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara bijaksana.

Integrasi tema ekonomi biru dalam berbagai diskusi internasional menunjukkan komitmen Indonesia. Komitmen tersebut untuk mendorong pemanfaatan laut yang bertanggung jawab dan memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan global. OIS 2026 diharapkan menjadi katalisator bagi inisiatif-inisiatif baru.

Dukungan dari komunitas internasional terhadap Ocean Impact Summit 2026 mulai terlihat signifikan. Salah satu tokoh penting, John Burton, pendiri The Sustainable Fisheries and Communities Trust (SFACT), telah menyatakan komitmennya untuk hadir di Bali Juni mendatang. Kehadiran beliau menegaskan daya tarik dan urgensi forum ini.

Burton mengungkapkan ketertarikannya setelah melihat presentasi OIS pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) sebelumnya. Ia menyatakan, "Pelaksanaan OIS adalah sinyal kepemimpinan Indonesia di sektor kelautan dan perikanan. Saya baru tahu tentang OIS setelah melihat video presentasi di WEF lalu. Saya menyatakan saya akan datang.” Pernyataan ini menunjukkan pengakuan terhadap peran Indonesia.

Ocean Impact Summit 2026 merupakan acara perdana yang mendapat dukungan kuat dari berbagai pihak. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) dan OceanX, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada riset serta teknologi kelautan, turut mendukung inisiatif ini. Kolaborasi ini memperkuat posisi OIS sebagai agenda global penting.

Pemerintah Indonesia menaruh harapan besar pada Ocean Impact Summit 2026. Forum ini diharapkan menjadi wadah strategis untuk melahirkan berbagai inovasi. Inovasi tersebut berorientasi pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi biru.

Tujuan utama OIS 2026 adalah mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan global. Selain itu, forum ini juga bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan. Seluruh upaya ini dilakukan tanpa mengesampingkan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut.

Melalui OIS 2026, Indonesia berupaya memposisikan diri sebagai pemimpin dalam pengelolaan kelautan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, forum ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata. Kontribusi tersebut untuk masa depan laut yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi