Kisah Bali Bakti Anggara Sukses Sulap Limbah Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi Hingga Tembus Pasar Global

Dengan memanfaatkan limbah, perusahaan ini tidak hanya mengurangi sampah tidak terpakai, tetapi juga menciptakan produk-produk yang memiliki nilai seni tinggi.

Merdeka.com
Oleh Merdeka.com - Reporter
Kisah Bali Bakti Anggara Sukses Sulap Limbah Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi Hingga Tembus Pasar Global
Kisah Bali Bakti Anggara Sukses Sulap Limbah Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi Hingga Tembus Pasar Global (Merdeka.com)

Di tengah meningkatnya isu lingkungan dan pemanasan global, UMKM Bali Bakti Anggara berhasil membuktikan bahwa limbah bisa diubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Bali Bakti Anggara, sebuah UMKM yang berbasis di Gianyar, Bali, sukses menyulap limbah menjadi karya seni bernilai tinggi.

Bali Bakti Anggara didirikan oleh Ibu Ayu, seorang pebisnis yang telah berkecimpung di dunia kerajinan tangan sejak tahun 90-an. Awalnya, bisnis ini berjalan di bawah naungan rukun yang berbeda, sebelum akhirnya resmi menjadi CVW Bali Bakti Anggara pada tahun 2013. Menurut Jodi Setiawan, Merchandiser Bali Bakti Anggara, awalnya limbah kayu hanya digunakan masyarakat sekitar sebagai kayu bakar. Namun kini, bahan tersebut diolah menjadi mangkuk, piring, sendok, hingga berbagai produk dekoratif yang diminati pasar.

"Kami banyak menggunakan produk dari limbah, seperti limbah kayu, batu, dan kaca," jelas Jodi Setiawan

Dengan memanfaatkan limbah, perusahaan ini tidak hanya mengurangi sampah yang tidak terpakai, tetapi juga menciptakan produk-produk yang memiliki nilai seni tinggi.

"Sebelumnya, masyarakat sekitar menggunakan sisa panen kayu untuk kayu bakar. Sekarang, kami mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai lebih," ungkap Jodi.

Produk karya seni dari UMKM Bali Bakti Anggara yang tampil di BRI UMKM EXPO(RT) 2025
Produk karya seni dari UMKM Bali Bakti Anggara yang tampil di BRI UMKM EXPO(RT) 2025 @ 2025 merdeka.com

Tembus Pasar Global

Produk-produk yang dihasilkan oleh Bali Bakti Anggara sangat beragam, mulai dari peralatan dapur seperti mangkuk, sendok, dan piring, hingga barang-barang dekoratif. Namun, UMKM ini lebih fokus pada produk dekoratif karena antusiasme pasar yang lebih besar ke arah sana.

"Kami lebih prefer ke barang-barang kecil, tidak ke furniture. Karena kami menggunakan kayu yang sudah tidak terpakai, jadi lebih cocok untuk produk kecil," ujar Jodi.

Meskipun belum memiliki pasar lokal, UMKM yang tampil di BRI UMKM EXPO(RT) 2025 telah mengekspor produknya ke berbagai negara, termasuk Amerika, Eropa (Skandinavia, Austria, Jerman, Italia, Prancis), Jepang, Filipina, dan Afrika Selatan.

"Minat pasar selalu berubah setiap tahunnya. Kami selalu mengikuti guideline atau inspirasi desain dari buyer kami," kata Jodi.

Suksesnya Bali Bakti Anggara mengekspor produk ke pasar global, terdapat andil dari BRI UMKM EXPO(RT) di dalamnya. Ya, Jodi mengatakan, UMKM ini telah beberapa kali terlibat dalam program BRI UMKM Ekspor dan memberikan dampak positif bagi perkembangan bisnis.

"Kami sudah terlibat sekitar empat kali, mulai dari tahun 2019 hingga 2023. Program ini sangat membantu dalam memperluas jaringan buyer kami," ujar Jodi.

Rekomendasi