Kemenperin Dorong Diversifikasi Ekspor Baja Indonesia, Sasar Timur Tengah

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong diversifikasi ekspor baja Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan negara industri berkembang, guna mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan utama dan memperkuat ketahanan industri nasional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenperin Dorong Diversifikasi Ekspor Baja Indonesia, Sasar Timur Tengah
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong diversifikasi ekspor baja Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan negara industri berkembang, guna mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan utama dan memperkuat ketahanan industri nasional. (AntaraNews)

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara aktif mendorong upaya diversifikasi pasar ekspor baja Indonesia. Langkah strategis ini menargetkan kawasan Timur Tengah serta negara-negara industri berkembang sebagai tujuan baru, dengan tujuan utama mengurangi ketergantungan yang berlebihan pada satu negara tujuan utama. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan industri baja nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa saat ini ekspor baja Indonesia masih sangat terkonsentrasi ke China. Kondisi ini, menurutnya, menimbulkan risiko signifikan apabila terjadi gangguan ekonomi di negara tujuan utama tersebut, yang dapat berdampak langsung pada kinerja industri baja nasional. Oleh karena itu, diversifikasi menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sektor ini.

Meskipun tingginya permintaan dari China tetap menjadi aspek positif bagi kinerja ekspor nasional, pemerintah tetap perlu mengantisipasi potensi perlambatan atau gangguan ekonomi di masa depan. Antisipasi ini penting agar ekspor baja Indonesia tidak tertekan dan tetap kompetitif di pasar global, sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan industri dalam negeri.

Ketergantungan ekspor baja Indonesia pada satu negara tujuan utama, yaitu China, menimbulkan kekhawatiran serius bagi stabilitas industri nasional. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa jika terjadi gejolak ekonomi atau turmoil di China, dampaknya akan langsung terasa pada industri baja di Indonesia. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya memiliki pasar ekspor yang lebih beragam untuk mitigasi risiko.

Meskipun volume ekspor ke China yang mencapai lebih dari 17,9 miliar dolar AS pada tahun 2025 merupakan pencapaian positif, hal tersebut juga menjadi pengingat akan risiko yang melekat pada konsentrasi pasar. Pemerintah menyadari bahwa keuntungan jangka pendek dari tingginya permintaan harus diimbangi dengan strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan industri.

Oleh karena itu, diversifikasi pasar bukan hanya tentang mencari peluang baru, tetapi juga merupakan langkah preventif untuk melindungi industri baja nasional dari fluktuasi ekonomi global yang tidak terduga. Strategi ini akan memastikan bahwa industri baja Indonesia tetap resilient dan mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar internasional.

Sebagai alternatif strategis, pemerintah melihat peluang besar untuk ekspor baja ke kawasan Timur Tengah. Wilayah ini diidentifikasi memiliki kebutuhan baja yang tinggi, terutama untuk proyek pembangunan infrastruktur dan fasilitas industri seperti kilang (refinery). Kebutuhan konstruksi yang masif di sana menjadi pasar potensial yang menjanjikan bagi produk baja Indonesia.

Selain Timur Tengah, negara-negara dengan basis industri baja yang belum kuat juga menjadi target pasar selanjutnya. Negara-negara ini menawarkan celah bagi produk baja Indonesia yang memiliki daya saing, untuk mengisi kebutuhan domestik mereka. Pendekatan ini memperluas jangkauan pasar dan mengurangi tekanan pada pasar tradisional.

Pada tahun 2025, ekspor produk baja Indonesia mencapai total sekitar 29,7 miliar dolar AS, dengan lima pasar utama meliputi China, Taiwan (sekitar 1,8 miliar dolar AS), India (1,6 miliar dolar AS), Vietnam (864 juta dolar AS), dan Italia (777 juta dolar AS). Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara, menunjukkan kualitas dan daya saing produk nasional di kancah regional dan global.

Kinerja ekspor-impor besi dan baja (HS 72–73) dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif, dengan surplus neraca perdagangan sebesar 7,28 juta ton pada tahun 2025. Namun, jika komoditas ferronikel dikeluarkan dari perhitungan, neraca perdagangan justru defisit sekitar 3,7 juta ton pada tahun yang sama, didominasi oleh impor bahan baku. Hal ini mengindikasikan perlunya penguatan sektor antara dan hilir dengan spesifikasi teknis yang lebih tinggi.

Di tengah tekanan global, industri baja juga menghadapi tantangan kelebihan kapasitas produksi dunia, yang diproyeksikan OECD mencapai hampir 38 persen pada tahun 2027. Selain itu, kebijakan perdagangan internasional seperti tarif protektif Amerika Serikat dan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa turut mempengaruhi daya saing ekspor. Tantangan domestik meliputi masuknya baja prafabrikasi dan potensi praktik penghindaran kebijakan (circumvention), yang semuanya memerlukan penguatan instrumen perlindungan industri.

Untuk merespons berbagai tantangan ini, Kemenperin telah menyiapkan sejumlah strategi komprehensif. Strategi tersebut meliputi penguatan instrumen trade remedies, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara konsisten, percepatan transformasi menuju baja hijau, peningkatan investasi di sektor hulu, serta pendalaman hilirisasi yang terintegrasi dengan sektor strategis seperti perkapalan, otomotif, dan infrastruktur. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan ketahanan industri baja nasional secara berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi