Kembangkan Kendaraan Listrik, Pemerintah Larang Ekspor Nikel Kadar Rendah

Senin, 2 September 2019 14:50 Reporter : Merdeka
Kembangkan Kendaraan Listrik, Pemerintah Larang Ekspor Nikel Kadar Rendah Tambang Nikel. a2.sphotos.ak.fbcdn.net

Merdeka.com - Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot mengatakan, pelarangan ekspor nikel ditetapkan per 1 Januari 2020, untuk mendorong pengembangan industri mobil listrik. Pelarangan ini termasuk untuk kadar rendah di bawah ‎1,7 persen yang sebelumnya boleh diekspor.

"Pemerintah dengan pertimbangan cost benefit-nya mengambil insiatif menghentikan ekspor nikel segala kualitas. Dulu di bawah 1,7 diekspor atas dasar itu kita hentikan," kata Bambang, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (2/9).

Menurutnya, nikel kadar rendah yang mengandung mengandung lithium dan kobalt, saat ini sudah bisa diolah dengan teknologi ‎hidrometalurgi untuk dijadikan komponen baterai yang bisa mendukung pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.

‎"Kedua saat ini perkembangan teknologi sudah maju, justru dapat mengelola nikel kadar rendah, nikel tersebut dapat digunakan sebagai komponen baterai," imbuhnya.

Saat ini ada empat perusahaan yang sedang dibangun untuk mengelola nikel kadar rendah menjadi baterai kendaraan listrik. Jika empat pabrik tersebut beroperasi maka total kebutuhan nikel kadar rendah pada 2021 akan mencapai 27 juta ton per tahun.

‎"Ini ada perusahaan yang ingin mengolah kadar rendah jadi kobalt dan lithium," tandasnya.

‎Empat perusahaan tersebut adalah, PT Harita Prima Abdi Mineral atas nama PT Halmahera Persada Lygend kapasitas olahan 8,3 juta wet ton bijih nikel per tahun dan kapasitas menghasilkan 278.534 ton dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate, nikel sulfat dan cobalt sulfat.

PT Smelter Nikel Indonesia dengan kapasitas kelola 2,4 juta wet ton bijih nikel per tahun dan kapasitas menghasilkan 76.500 ton bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nikel suflat dan cobalt sulfat.

Huayue Bahodopi PT Huayue Nickel Cobalt di Morowali Sulawesi Tengah, mampu mengolah 11 juta ton bijih nikel per tahun menghasilkan 60 ribu Ni per tahun dan 7.800 ton cobalt. QMB Bahodopi‎ Morowali Sulawesi Tengah, kapasitas kelola 5 juta ton bijih nikel per tahun, kapasitas menghasilkan 50 ribu ton Ni per tahun dan 4 ribu cobalt.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini