Kata Ahli soal Kematian 2 Warga AS Akibat Penggunaan Vape

Senin, 9 September 2019 11:40 Reporter : Dwi Aditya Putra
Kata Ahli soal Kematian 2 Warga AS Akibat Penggunaan Vape Vape China Expo. ©AFP PHOTO/CHINA OUT

Merdeka.com - Pemerhati Kesehatan Publik, Tri Budhi Baskara angkat suara mengenai kematian terjadi di Amerika Serikat (AS) karena penyakit paru-paru terkait penggunaan rokok elektronik atau vape. Menurut dia, kematian tersebut tidak sepenuhnya diakibatkan karena konsumsi vape secara berlebihan.

Baskara mengatakan, berdasarkan hasil kajian dan penelitian ada indikasi lain yang menyebabkan korban tersebut tewas. Bukan karena keseringan mengonsumsi vape, namun karena lemahnya kondisi daya tahan tubuh seseorang dan juga karena memiliki alergi terhadap kandungan dari isi vape tersebut.

"Kami dan peneliti mencari tau dan mendapatkan fakta bahwa mereka yang terkena ini adalah mereka yang memang memiliki kondisi tubuh yang beda saya analogikan sebagai contohnya orang yang alergi," kata Baskara saat dikonfirmasi di acara Fave Fair 2019, seperti ditulis Senin (9/9).

Dia menjelaskan, rokok elektronik sendiri sebetulnya memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan rokok konvensional. Oleh karenanya, kematian dua warga AS tersebut tidak sepenuhnya bisa dikatakan karena penyakit paru-paru akibat penggunaan vape.

"Data sampai detik ini penelitian jurnal dan kawan-kawan masih kita pada keputusan bahwa produk alternatif ini seperti elektronik sigret atau vape yang kita tau dan alat yang ada namanya istilah tembakau dipanaskan itu masih 95 persen lebih sehat," kata dia.

"Harus digarisbawahi di sini semua orang yang mendengarkan ini paham bahwa produk ini itu 100 persen tidak sehat. Saya adalah orang pertama yang berani dengan keras mengatakan kalau ada orang yang bilang produk ini 100 persen sehat. Produk ini 95 persen sehat dibandingkan rokok konvensional atau tradisional," sambung dia.

Kendati begitu, Baskara tak menampik masih ada sekitar 5 persen sisanya yang memiliki senyawa tidak sehat. Namun, secara efek ke tubuh dirinya belum bisa mengetahui besaran pengaruhnya karena masih dalam penelitian pihaknya.

Sementara itu, untuk kasus temuan di Indonesia sendiri sejauh ini belum ada yang meninggal akibat penggunaan vape. Hanya saja, dari berbagai temuan itu kebanyakan yang mengidap sakit dikarenakan alergi.

"Kalau sampai mengakibatkan kematian dari vape atau tembakau alternatif sampai detik ini di Indonesia belum ada. Tapi kalau ada orang yang sakit terkena kondisi yang menyakitkan karena penggunaan tembakau alternatif itu ada tetapi ketika kita cek semuanya analoginya kembali lagi kepada respon individu yang bereda itu. Ada dia yang ternyata alergi terhadap kandungan dari liquid, ternyata dia terpapar itu terus asma. Tapi hanya itu, itu adalah reaksi alergi," jelas dia.

Seperti diketahui, Amerika Serikat pada bulan Juli lalu mengumumkan kematian pertama terkait dengan kebiasaan mengisap vape. Kasus itu bahkan disebut-sebut sebagai yang pertama di dunia.

Kemudian, baru baru ini satu lagi pasien yang terkena penyakit paru-paru akibat kebiasaan mengisap vape meninggal dunia. Orang tersebut menjadi yang kedua dalam kasus yang saat ini sedang heboh di Amerika Serikat.

Oregon Health Authority (OHA) menyatakan bahwa pasien, yang usia dan jenis kelaminnya tidak diungkap, memiliki gejala yang mirip dengan korban vape lainnya yaitu sesak napas, batuk, nyeri dada, muntah, diare, kelelahan, demam, hingga turun berat badan.

"Kami belum tahu penyebab pasti penyakit ini, apakah disebabkan oleh kontaminan, bahan dalam cairan atau sesuatu yang lain seperti perangkat itu sendiri," kata Ann Thomas dari divisi kesehatan masyarakat OHA. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Rokok Elektrik
  3. Industri Rokok
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini