Kaleidoskop 2018: Fakta Perang Dagang AS-China, Hingga Buat Rupiah Keok ke Rp 15.400

Sabtu, 29 Desember 2018 06:00 Reporter : Anggun P. Situmorang
Kaleidoskop 2018: Fakta Perang Dagang AS-China, Hingga Buat Rupiah Keok ke Rp 15.400 perang dagang. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sejak awal tahun ini telah menetapkan tarif sekitar USD 60 miliar atau sekitar Rp 827,34 triliun atas produk China masuk ke negeri Paman Sam. Kebijakan Trump tersebut memicu perang dagang.

Sebab, tak berselang lama, keputusan tersebut langsung mendapat respons dari China. China mengumumkan daftar 106 produk asal Amerika Serikat (AS) yang dinaikkan tarif impornya. Kementerian Perdagangan China mengatakan, tarif itu dirancang untuk mengenakan tarif produk AS hingga USD 50 miliar setiap tahun.

Indonesia dinilai berpeluang besar untuk memperoleh keuntungan dari trade war atau perang dagang yang saat ini tengah terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Potensi keuntungan terbesar ada di 3 sektor yaitu IT, otomotif, dan garmen.

Chief Economist and Invesment Strategies PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan menyebutkan, isu perang dagang antara Amerika Serikat dan mitra-mitranya masih akan mewarnai perjalanan tahun 2019. Namun pasar finansial global telah memperhitungkan dampak terburuk dari perang dagang terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan laba korporasi.

"Satu hal yang menarik, perang dagang membuat kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, berpeluang menjadi pihak yang diuntungkan, karena korporasi global yang tadinya berpusat di China bisa saja mendiversifikasikan bisnisnya ke luar China. Sektor-sektor berpotensi diantaranya adalah IT, otomotif, dan garmen," kata dia dalam sebuah acara diskusi di kantornya, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Katarina menegaskan, Indonesia berpeluang untuk mendapatkan keuntungan dari perang dagang ini sebab upah pekerja di RI terbilang murah dibanding negara lain. Sebab, saat ini banyak perusahaan yang ingin keluar dari negeri tirai bambu tersebut.

"Sebagian perusahaan-perusahaan global akan mengalihkan tempat produksinya dari China ke negara-negara lain," dia menambahkan.

Murahnya upah tersebut disinyalir dapat menjadi daya tarik dan akan membuat banyak pihak produsen mengalihkan tempat produksinya ke Indonesia. Namun demikian tidak berarti hanya upah murah saja yang harus menjadi daya tarik Indonesia dimata para pengusaha tersebut. Sektor lain pun harus tumbuh meyakinkan agar dapat menambah daya pikat RI di mata dunia.

"Yang harus dilakukan adalah oke upah kita murah, tapi kita juga harus membuat negara kita lebih menarik di berbagai hal, antara lain adalah logistik misalnya." ujarnya.

Selain itu, kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EoDB) harus lebih ditingkatkan. "EoDB kita memang sudah meningkat peringkatnya jadi lumayan, cuma masih banyak PR nya. kalau PR PR itu dikerjakan dan diselesaikan maka Indonesia berpeluang sangat besar untuk mendapat keuntungan dari perang dagang ini," jelasnya.

Senada dengan Katarina, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan peluang keuntungan perang dagang memang ada dan tentunya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apalagi, dengan adanya perang dagang tersebut diprediksi akan ada banyak investor yang akan membawa kabur investasinya dari negeri tirai bambu dan mengalihkannya ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.

"Potensi itu sangat ada, harus dimanfaatkan," kata Menkeu Sri Mulyani saat ditemui di Gedung Dhanapala Kemenkeu, Jakarta.

Oleh karena itu, dia berharap semua sektor dapat memaksimalkan kinerjanya agar dapat mengambil kesempatan emas tersebut. "Kita harapkan seluruh sektoral meningkatkan kemampuan kita untuk mengambil manfaat dari perang dagang ini. Apakah manufaktur, untuk menarik capital dari luar maupun pusat ekspor," jelasnya.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai perang dagang sepanjang 2018, berikut ini merdeka.com merangkum 6 fakta menariknya.

Baca Selanjutnya: Dipicu Pengenaan Tarif Rp 82734...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini