Kadin Pertanyakan Pertumbuhan Industri Manufaktur Menurun di 2019

Jumat, 7 Februari 2020 21:12 Reporter : Merdeka
Kadin Pertanyakan Pertumbuhan Industri Manufaktur Menurun di 2019 Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani. ©2019 Liputan6.com

Merdeka.com - Ketua Kamar Dagang (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mempertanyakan mengapa pertumbuhan sektor industri manufaktur turun pada tahun 2019. Untuk diketahui, pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan di kuartal IV-2019 hanya 3,80 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,27 persen.

"Industri pengolahan tahun 2019 masing-masing tercatat tumbuh 3,85 persen di triwulan I, tumbuh 3,54 persen di triwulan II, tumbuh 4,14 persen di triwulan III, dan tumbuh 3,66 persen di triwulan IV," kata Rosan di Jakarta, Jumat (7/2).

Berdasarkan data yang diperoleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat terkait perlambatan industri pengolahan sepanjang tahun 2019, bahwasannya telah memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen.

Namun, dari data tersebut Rosan mempertanyakan mengapa kontribusi dan pertumbuhan sektor industri manufaktur turun pada tahun 2019. Dia mempertanyakan penyebab dan langkah yang mesti diambil pemerintah, untuk mendongkrak kinerja industri manufaktur.

Selain itu, dia juga mempertanyakan apakah pertumbuhan 5 sektor industri prioritas bisa diandalkan untuk mendongkrak kinerja industri manufaktur ke depan. Sebab, pertumbuhan industri pengolahan tahun 2019 tercatat 3,8 persen, lebih rendah dari tahun 2018 yang masih mampu tumbuh 4,27 persen.

"Tahun lalu, industri pengolahan tetap menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi terbesar," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Penjualan Listrik di 2019 Melambat

Wakil Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, menurunnya angka penjualan listrik karena rendahnya tingkat konsumsi listrik industri.

Seperti diketahui, PLN hanya mampu menjual listrik sebanyak 245,52 TeraWatthour (TWh) di 2019, hanya tumbuh 4,65 persen dibanding tahun 2018. Angka ini tidak mencapai target sebesar 248,8 TWh.

"Jadi gini, konsumen utama listrik yang terbesar itu salah satunya industri, kalau industri tumbuhnya di bawah 4 persen, otomatis penggunaan listriknya juga berkurang gitu loh," ujar Eko di Rantang Ibu ITS Tower, Jakarta, Kamis (6/2).

Untuk diketahui, pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan di kuartal IV-2019 hanya 3,80 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,27 persen. Indef mencatat ada dua faktor utama penyebab menurunnya tingkat pertumbuhan industri, yaitu rendahnya kualitas investasi dan minimnya investasi di sektor manufaktur.

"Tingkat pertumbuhan industri pada tahun ini menurun, dibanding tahun lalu. Hal ini disebabkan jasa pelayanan investasi kita masih tertinggal, tidak ramah investor, yang mengakibatkan enggan berinvestasi dan pergi," imbuhnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Indef Beberkan Alasan Penjualan Listrik di 2019 Melambat
Ekonom Bank Permata: PGN akan Alami Dampak Negatif, bila Harga Gas Industri Turun
Dampak Virus Corona, Industri Farmasi Diramal Menko Airlangga Bakal Terpukul
Produksi Karet Nasional Capai 3,3 Juta Ton Tapi Harga Masih Tertekan
ABC President Indonesia Tambah Investasi untuk Pabrik Karawang, Jawa Barat

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini