Jam Kerja di China Ternyata dari Jam 9 Pagi Sampai Jam 9 Malam, Kini Muncul Fonemena 'Manusia Tikus

Popularitas tren ini semakin meningkat pasca pandemi, sampai-sampai memicu kekhawatiran pemerintah pusat di Beijing.

Siti Ayu Rachma
Oleh Siti Ayu Rachma - Reporter
Jam Kerja di China Ternyata dari Jam 9 Pagi Sampai Jam 9 Malam, Kini Muncul Fonemena 'Manusia Tikus
Jam Kerja di China Ternyata dari Jam 9 Pagi Sampai Jam 9 Malam, Kini Muncul Fonemena 'Manusia Tikus' (Merdeka.com)

Di tengah tekanan ekonomi dan kerasnya dunia kerja di China, muncul sebuah tren sosial yang semakin populer di kalangan generasi milenial dan Gen Z menjadi 'manusia tikus'. Istilah ini merujuk pada anak muda yang dengan bangga menghabiskan hari-harinya di tempat tidur, menjelajahi internet, dan makan di luar tanpa merasa bersalah karena tidak bekerja. 

Fenomena ini menjadi bentuk ekstrem dari gerakan 'berbaring datar' sebuah bentuk perlawanan terhadap budaya kerja China yang dikenal dengan sistem '996', yaitu bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari dalam seminggu.

Melansir dsri Business Insider, dalam sebuah montase video yang diunggah ke RedNote, platform berbagi foto yang populer di kalangan wanita China, seorang perempuan muda mendokumentasikan hari ke-83 dirinya hanya bersantai di kamar.

"Saya menolak untuk malu menjadi orang yang bergantung. Saya membela nama orang-orang tikus,” ujarnya tegas dalam video tersebut. 

"Setelah tiga tahun bekerja keras, akhirnya saya berhasil membuat orang tua saya sadar bahwa memiliki pekerjaan tidak akan menghasilkan kekayaan bagi diri saya sendiri."

Gerakan 'berbaring datar' sendiri telah berevolusi sejak pertama kali muncul pada 2021. Pada dasarnya, gerakan ini mengajak anak muda untuk menolak gaya hidup kompetitif demi hidup yang lebih santai dan minimalis. 

Namun kini, sebagian besar penganutnya mengadopsi sikap 'biarkan membusuk', yakni pasrah pada keadaan dan memilih bergantung pada orang tua sebagai anak-anak penuh waktu.

Popularitas tren ini semakin meningkat pasca pandemi, sampai-sampai memicu kekhawatiran pemerintah pusat di Beijing yang tengah berupaya menggenjot perekonomian nasional. Tapi menjadi manusia tikus bukan sekadar menyerah pada keadaan, melainkan juga bentuk refleksi dan pencarian makna hidup di luar ekspektasi masyarakat.

"Berbaring telentang berarti: ‘Saya mungkin tidak melakukan apa pun, tidak bekerja dari jam 9 sampai jam 5, tetapi tetap melakukan hal-hal yang saya sukai,’" kata Direktur Digital Crew, Ophenia Liang. 

Menurutnya, gaya hidup ini menjadi antitesis dari budaya influencer yang glamor dan disiplin di media sosial. “Orang-orang tikus ingin menjadi kebalikan dari orang-orang internet yang pergi ke gym setiap pagi,” tambahnya.

Di media sosial seperti RedNote, para 'manusia tikus' mengunggah video tentang jadwal harian mereka bangun pukul 4 sore dan menghabiskan waktu menggulir layar iPad. Ini berbanding terbalik dengan influencer seperti Ashton Hall di Instagram, yang membanggakan diri bangun pukul 4 pagi untuk jogging.

Menurut Liang, kondisi ekonomi turut memungkinkan tren ini terjadi. Generasi muda saat ini adalah yang pertama kali mengalami perlambatan ekonomi besar, sementara orang tua mereka yang lahir di era 1960–1970, telah lebih dulu menikmati hasil pertumbuhan ekonomi pesat China

"Banyak dari mereka memiliki tabungan yang cukup, dan ini memungkinkan anak-anak mereka bertahan meski menganggur," katanya.

Statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran untuk penduduk berusia 16 hingga 24 tahun di China mencapai 16,5 persen pada bulan lalu. Sebelumnya, angka ini sempat menembus rekor 21,3 persen pada kuartal kedua tahun 2023, sebelum pemerintah menghentikan pelaporannya dan mengubah metode penghitungan untuk mengecualikan pelajar.

Namun bahkan bagi yang berhasil mendapatkan pekerjaan, tekanan dari budaya kerja '996' tetap menyisakan kelelahan fisik dan mental yang mendalam. Kekecewaan itulah yang memicu sebagian anak muda memilih berbaring datar dan berhenti mengejar pencapaian yang tidak menjamin kebahagiaan atau kesejahteraan.

Peneliti senior dari Youth Research Collective, Universitas Melbourne, Eric Fu mengatakan tren ini mencerminkan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap pekerjaan. 

"Ini bukan semata-mata tentang kemalasan. Banyak anak muda mulai mempertanyakan apa sebenarnya arti dari pekerjaan dan hidup yang bermakna," ujarnya. 

Fu juga menekankan bahwa tren ini tidak selalu harus dianggap negatif. Menurutnya, kelompok ini memang, dalam beberapa hal, termasuk golongan yang memiliki privilese. Mereka punya kemewahan untuk berhenti sejenak, tapi bukan berarti mereka membuang hidup mereka begitu saja.

Dia menilai, akan keliru jika menganggap para "manusia tikus" ingin hidup seperti ini selamanya. “Mereka mungkin hanya ingin mengambil napas sejenak beristirahat sebelum kembali menata langkah,” tambah Fu.

Rekomendasi