Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur, Masa Depan Bisnis Properti Cerah

Sabtu, 31 Agustus 2019 19:00 Reporter : Saud Rosadi
Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur, Masa Depan Bisnis Properti Cerah Jalan Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur. ©2019 Merdeka.com/Saud Rosadi

Merdeka.com - Pemerintah memutuskan memindahkan ibu kota negara (IKN) ke sebagian kabupaten Penajam Paser Utara, dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Bisnis properti yang sempat lesu di Kalimantan Timur, bakal kembali bergairah.

"Karena memang selama ini kita kota besar. Sudah banyak pengembang yang mempersiapkan hunian landed dan subsidi di Balikpapan dan Samarinda. Baik pengembang besar dan lokal. Sebagai kota, cukuplah hunian seandainya diperlukan," kata Ketua DPD REI Kaltim Bagus Susetyo ditemui di Samarinda ditulis Sabtu (31/8).

Bagus menerangkan, di kedua kota Balikpapan dan Samarinda itu, sejumlah pengembang besar seperti Agung Podomoro, Ciputra, dan Sinar Mas yang sudah beroperasi sekitar 10 tahun terakhir, punya lahan yang cukup.

"Artinya, cukup beragam pengembang dari anggota kami. Dari rumah kecil, menengah, dan mewah. Kalau pengembang lokal, kepemilikan lahan sekitar 40 hektare. Pengembang besar sampai 200 hektare," ujar Bagus.

Menurut Bagus, dari informasi yang dia terima, pengembang properti skala besar lainnya mulai berdatangan ke Kalimantan Timur, bergerak senyap agar harga lahan tetap terkontrol. "Ada yang melaksanakan survei. Bahkan mungkin ada yang melaksanakan transaksi," tambahnya.

"Itu intinya hal yang wajar. Banyak pengembang dan non pengembang, yang punya kemampuan finansial, akan mengarah ke lahan sekitar ibu kota negara yang baru. Saya yakin, itu sudah ada mulai melirik baik itu dari Jakarta, Bandung, luar Sumatera. Karena potensinya besar," ungkap Bagus.

Bagus optimistis, dengan Kaltim jadi IKN, bisnis properti kembali bergairah. "Karena 4-5 tahun terakhir, agak sedikit menurun pascatambang yang kondisinya tidak begitu baik," terangnya.

DPD REI Kaltim sendiri, sebelumnya beranggotakan 147 pengembang. Saat ini terus menyusut, menjadi sekitar 70 pengembang. "Dengan perkembangan ekonomi yang stagnan akibat pascatambang, relatif teman-teman kami ini, mengembangkan perumahan subsidi yang digunakan untuk hunian, bukan investasi." [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini