Helman Sitohang, diaspora Indonesia sukses jadi CEO Credit Suisse
Merdeka.com - CEO Credit Suisse Asia-Pacific Helman Sitohang menjadi salah satu pembicara pada kongres diaspora ke IV yang dilaksanakan di Jakarta, hari ini. Orang batak yang bermukim di Singapura itu menceritakan perjalanan karirnya hingga bisa memimpin 7 ribu karyawan tersebar di Asia-Pasifik.
"Perjalanannya harus melewati kompetisi, melewati semua yang harus dilewati. Karena kinerja saya mungkin dianggap bagus selama ini atau bagian yang saya pimpin menghasilkan, maka saya diberi kepercayaan memimpin," ujar Helman saat ditemui disela-sela kongres diaspora IV di Kota Kasablanka, Jakarta.
Helman mengatakan, setidaknya lebih dari 10 negara harus dipimpin secara bersamaan dalam suatu waktu. Tanpa memiliki kualitas seorang pemimpin mustahil hal tersebut dapat berjalan dengan baik.
"Kompetisi waktu itu banyak, jadi kita bersaing. Saya sekarang punya staf sekitar 7000 di Asia. Tersebar Dari India, Jepang, Korea, Australia, Hongkong, China dan Asia Tenggara. Semuanya itu yang harus saya pimpin," jelasnya.
"Saya tentu harus menunjukkan kualitas sebgai seorang pemimpin yang memiliki sisi strategi dan eksekusi gitu kan. Semua kriteria itu yang dipertimbang kan untuk memperoleh promosi tambahan. Harus ada jiwa kepemimpinan. Hal hal ini yang harus dimiliki," tambahnya.
Helman sendiri sebenarnya tidak memiliki dasar ilmu industri keuangan. Namun berkat pengalaman memimpin Citibank 1991, karirnya terus menanjak hingga menjadi CEO Credit Suisse Asia-Pacific.
"Saya mulai industri keuangan sudah lama. Awalnya citibank tahun 1991, jadi sekitar 26 tahun lah. Mungkin sekarang salah satu yang paling lama kali, di Asia juga tidak banyak banker yang seumur saya masih aktif," tuturnya.
Helman menambahkan secara umum dirinya memperoleh bekal bekerja diluar karena belajar kepemimpinan di dalam negeri. Standar kerja yang berlaku secara global membuatnya lebih mudah meniti karir di luar negeri.
"Jadi standar kriterianya menurut saya tidak beda jauh apakah kita ditempatkan di suatu negara, atau negara lain karena standar nya kan standar global jadi mungkin itu yang memudahkan. Kalau kita mau naik ke atas jadi lebih mudah. Karena kalau dari awal standarnya sama, kita lama-lama mengerti cara berkontribusi dan berkompetisi yang baik," pungkasnya.
(mdk/yud)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya