Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) secara resmi menyatakan komitmen kuatnya untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi kaum perempuan di seluruh wilayah Indonesia. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu, 8 Februari 2026, sebagai langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki perempuan.
Organisasi ini melihat bahwa potensi ekonomi perempuan di Tanah Air masih belum terkelola secara kolektif dan berkelanjutan, padahal peran mereka sangat vital. GSI hadir sebagai wadah untuk mendorong kemandirian dan kontribusi signifikan perempuan dalam berbagai sektor kehidupan bangsa.
Deklarasi GSI pada 7 Februari 2026 menandai dimulainya gerakan yang berorientasi pada pemberdayaan nyata di bidang ekonomi, politik, dan sosial. Tujuannya adalah menciptakan perempuan Indonesia yang berdaya guna, mandiri, dan bermartabat.
Advertisement
Advertisement
Ketua Umum GSI, Dewie Yasin Limpo, menegaskan bahwa perempuan adalah aset bangsa yang luar biasa, dengan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Kontribusi ini termasuk melalui pembayaran pajak dan perannya dalam sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi.
Dewie Yasin Limpo menekankan pentingnya memastikan perempuan mendapatkan akses yang setara terhadap pengetahuan, jejaring, dan peluang usaha. "Perempuan Indonesia memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, termasuk melalui pajak dan sektor usaha kecil dan menengah. Karena itu, kami ingin memastikan perempuan mendapatkan akses pengetahuan, jejaring, dan peluang usaha yang setara," ujar Dewie dalam keterangannya di Jakarta.
GSI berupaya menghadirkan perempuan Indonesia yang tidak hanya berdaya guna, mandiri, dan bermartabat, tetapi juga menjadi energi baru bagi gerakan perempuan. Pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman menjadi kunci untuk mencapai tujuan pemberdayaan ini secara efektif.
Advertisement
Advertisement
Dalam tahap awal, GSI akan memfokuskan pada tiga program utama yang dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi perempuan Indonesia. Program pertama adalah di bidang ekonomi dan kewirausahaan, yang akan dijalankan melalui kemitraan dan kolaborasi antarpelaku usaha perempuan.
Program kedua berfokus pada bidang politik, dengan tujuan menyiapkan kader perempuan untuk menghadapi kontestasi politik, khususnya menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. Hal ini sejalan dengan upaya negara yang telah membuka ruang luas, termasuk kuota keterwakilan perempuan sebesar 30 persen di lembaga legislatif.
Pilar ketiga adalah program sosial, yang mencakup kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Melalui program ini, GSI ingin menumbuhkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial di kalangan perempuan, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi komunitas.
Advertisement
Melalui ketiga pilar ini, GSI berharap dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan perempuan di berbagai aspek kehidupan. Ini adalah langkah konkret untuk mewujudkan perempuan yang mandiri dan berdaya saing.
Advertisement
Dewie Yasin Limpo menyatakan bahwa GSI didirikan sebagai wadah perjuangan dan kolaborasi perempuan Indonesia dari lintas profesi dan generasi. Organisasi ini juga merupakan gerakan perempuan yang berorientasi pada pemberdayaan nyata di bidang ekonomi, politik, dan sosial.
Sejumlah tokoh perempuan nasional turut tercatat sebagai pendiri dan penggerak GSI, menunjukkan dukungan luas terhadap inisiatif ini. Mereka termasuk peneliti dan birokrat Delima Hasri Azahari, Siti Nur Azizah Ma’ruf, Elza Syarief, Siti Fadillah Supari, serta Melani L. Suharli.
Ke depan, GSI menargetkan pertumbuhan secara bertahap dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. Harapan besar disematkan agar GSI dapat menjadi kekuatan baru perempuan Indonesia yang solid, inklusif, dan berdampak nyata bagi kemajuan bangsa.
Advertisement
GSI juga diharapkan menjadi booster atau pendorong bagi gerakan perempuan di Tanah Air, membawa semangat baru dan pendekatan inovatif dalam upaya pemberdayaan. Dengan demikian, GSI siap berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional.
Sumber: AntaraNews