Faisal Basri: Industri Motor Listrik Jadi Prioritas Tertinggi

Selasa, 19 Februari 2019 17:31 Reporter : Siti Nur Azzura
Faisal Basri: Industri Motor Listrik Jadi Prioritas Tertinggi Faisal Basri. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Indonesia terus berupaya mengalihkan konsumsi energi yang sebelumnya berbasis pada energi fosil minyak, gas, dan batubara, menjadi struktur bauran energi berbasis energi baru dan terbarukan (EBT), sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Kementerian Perindustrian menargetkan di tahun 2025 populasi mobil listrik tembus 20 persen atau sekitar 400.000 unit. Selain itu, untuk populasi motor listrik ditargetkan mencapai 2 juta unit.

Pengamat ekonomi makro dari Universitas Indonesia, Faisal Basri mengatakan, salah satu penyumbang gas buang (emisi) terbesar adalah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil. Dengan demikian, yang lebih darurat untuk dikembangkan adalah sepeda motor listrik.

Menurutnya, selain teknologinya lebih sederhana, infrastruktur pendukungnya juga lebih mudah dibangun. Selain itu, sepeda motor listrik tidak harus menggunakan tenaga listrik tegangan tinggi seperti pada mobil listrik.

"Bagi saya prioritas tertinggi sebenarnya adalah untuk membangun industri sepeda motor listrik. Kendaraan lainnya bisa juga yang bentuknya berupa public transport seperti bus, mengingat sekarang ini jumlah kendaraan bus sudah semakin banyak di Indonesia," kata Faisal melalui keterangan resminya, Selasa (19/2).

Meski bersifat darurat, namun produksi yang dilakukan harus secara bertahap. Termasuk infrastruktur pendukung, seperti tempat parkir agar menunjukkan keberpihakan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Pemerintah Spanyol, yang memberi fasilitas khusus kepada pengendara sepeda motor. Karenanya diharapkan di Indonesia, di mana retribusi parkir sudah diurus pemerintah daerah, ini menjadi perhatian khusus.

Apabila dipandang dari segi teknologi, pembuatan sepeda motor listrik lebih sederhana, dibanding teknologi untuk mobil listrik. Sebab jika industri produsen motor dari Jepang tidak mengembangkan industri sepeda motor listrik di Indonesia, maka saat ini menjadi momentum kita mengembangkan industri sepeda motor listrik sendiri.

"Nantinya apabila kita punya produksi motor listrik sendiri, dan menggunakan merek sendiri, akan mengurangi ketergantungan kepada produksi motor Jepang," imbuhnya.

Terkait dengan optimalisasi daya listrik untuk kendaraan listrik, di mana kebutuhan listrik di tahun 2020 diperkirakan mencapai 279 MW dan tahun 2023 mencapai 2.279 MW, maka tanpa perlu menambah investasi, pasokan listrik PLN ini sudah cukup memadai.

Data yang diperoleh dari riset PLN, BUMN ini siap mendukung penggunaan mobil listrik dengan menyiapkan pasokan listrik dan infrastruktur pengisian baterei (Electric Vehicle Charger Station-EVCS) baik di rumah, stasiun pengisian, maupun mendorong agar pengisian SPLU ditempatkan di lokasi strategis seperti mal, perkantoran, sampai di pusat bisnis.

"Jika menggunakan mobil listrik, maka dengan kapasitas listrik yang ada, PLN tidak perlu menambah pembangkit, karena proses charging mobil listrik dapat dilakukan di rumah, di saat beban rendah, antara pukul 22.00 sampai 04.00," kata Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero) I Made Suprateka.

Unsur kemudahan mengisi baterei ini juga disinggung oleh Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. Menurutnya, penggunaan mobil atau motor listrik, perlu dipertimbangkan bagaimana cara men-
charge baterei yang lebih mudah.

"Sebab nantinya perlu juga mengubah perencanaan bisnis usaha Pertamina, yang selama ini menjual BBM, agar sekaligus di setiap SPBU (Stasiun Bahan Bakar Umum) disediakan alat untuk pengisian baterei dan segala kelengkapannya. Jadi nantinya Pertamina melakukan penjualan BBM dan juga alat untuk pengisian listrik umum," tuturnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini