Euforia IPO Superbank (SUPA) Dongkrak Sentimen Saham Bank Digital
Kehadiran SUPA di pasar perdana dinilai menjadi katalis positif bagi sektor perbankan digital yang selama ini menunjukkan pertumbuhan kuat.
Euforia pasar terhadap rencana penawaran saham perdana atau IPO (Initial Public Offering) Superbank (SUPA) semakin terasa menjelang penutupan masa book building pada 15 Desember 2025.
Senior Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Kevin Juido mengatakan, dengan harga penawaran sebesar Rp635 per saham, minat investor ritel maupun institusi terus menguat karena SUPA dinilai akan menjadi salah satu emiten bank digital baru yang potensial.
"Nah, ini memang kita lihat ada saham bank digital yang baru lagi nih yang akan IPO, yaitu SUPA (Superbank). Ini untuk penawaran umum IPO Rp635 per saham. Dan masa penawaran umum IPO saham SUPA berlangsung hingga 15 Desember 2025," kata Kevin dalam Morning Investview, Jumat (12/12).
Momentum ini membuat SUPA menjadi salah satu IPO yang paling dinantikan di akhir tahun. Kehadiran SUPA di pasar perdana dinilai menjadi katalis positif bagi sektor perbankan digital yang selama ini menunjukkan pertumbuhan kuat.
Investor melihat peluang pertumbuhan agresif pada segmen ini, terutama didukung ekspansi layanan digital dan penetrasi kredit yang semakin luas. Kombinasi prospek bisnis dan momentum pasar membuat IPO SUPA menjadi sorotan utama.
Sentimen ini juga tercermin dari meningkatnya diskusi di komunitas pasar modal yang menilai valuasi SUPA masih cukup atraktif untuk sektor dengan pertumbuhan tinggi. Dengan demikian, antusiasme investor diperkirakan berlanjut hingga masa penawaran umum.
BBYB dan ARTO Menguat
Sebelum SUPA resmi melantai di bursa, saham-saham bank digital lainnya terlihat ikut bergerak positif. BBYB dan ARTO sempat menguat signifikan di awal Desember, memperlihatkan adanya efek psikologis dari ekspektasi terhadap IPO bank digital baru tersebut.
"Kalau kita perhatikan memang efek dari SUPA itu kita lihat BBYB juga menguat. Terus juga ARTO juga. Memang kita lihat ya pergerakannya cenderung baik ya. Karena memang adanya aksi bank digital yaitu seperti SUPA itu yang akan IPO," ujarnya.
Kinerja BBYB dan ARTO menjadi gambaran bagaimana pasar merespons dinamika baru di industri bank digital. Meski tren penguatan sempat melambat, pergerakan keduanya tetap berada pada zona positif. Hal ini memberi sinyal bahwa ekspektasi jangka pendek terhadap sektor masih terjaga menjelang listing SUPA.
Ekspektasi Pasar terhadap Masa Depan Bank Digital Menguat
Momentum IPO SUPA juga memperkuat persepsi pasar bahwa bank digital akan tetap menjadi segmen perbankan yang tumbuh lebih cepat dibandingkan bank konvensional.
Data menunjukkan total kredit bank digital mencapai Rp 111,3 triliun per Oktober 2025, tumbuh 1,3 persen secara bulanan dan 29 persen secara tahunan. Angka ini menjadi bukti bahwa sektor ini masih berada dalam jalur ekspansi.
"Ini adalah data fakta bahwa memang dari segi total kredit secara bank digital. Memang secara kita lihat di bulan Oktober saja memang bank digital sektor bank digital ini naik 1,3 persen month to month, 21 persen year to date. Dan 29 persen secara year on year. Total kredit overall bank digital itu mencapai Rp111,3 triliun per Oktober 2025," pungkasnya.